3 Gaya Komunikasi yang Perlu Dihindari

Tips

3 Gaya Komunikasi yang Perlu Dihindari
Oleh: Yons Achmad
(Praktisi Komunikasi Profetik)

Ada sebuah pandangan bahwa setiap masalah bakal selesai kalau dikomunikasikan. Kepada siapa? Kepada orang yang tepat, kepada lembaga (institusi) yang tepat. Saya setuju dengan pernyataan ini. Bagaimana dengan komunikasi misalnya dalam sebuah talkshow di televisi. Saya kira tujuannya memang bukan menyelesaikan masalah, mendialogkan masalah dengan beragam sudut pandang. Tujuan utamanya lebih banyak bagaimana masing-masing mempertontonkan aksi menyampaikan kebenaran versinya.

Tak salah memang. Hasilnya memang sering terjadi debat yang panas, saling interupsi, saling memotong pembicaraan. Bahkan saling tunjuk, gebrak meja sampai tuangkan gelas berisi air minum kelawan bicara. Tentu hal ini tak elok dipandang. Memang, banyak sekali gaya komunikasi yang dimainkan politisi, pengamat atau para pembicara publik.

Arthur Jensen dalam “Interpersonal Communication” memaparkan setidaknya 9 gaya komunikasi yang banyak dilakukan umat manusia. Tapi, di sini saya akan cuplikkan setidaknya ada 3 gaya komunikasi yang perlu dihindari khususnya ketika berbicara di publik.

Pertama, dominant. Gaya seseorang yang ingin terus menguasai dan mengontrol. Kita bisa melihat contohnya, dilakukan oleh Ngabalin salah satu anggota Staf Kepresidenan Jokowi. Merasa dirinya dekat dengan Jokowi sehingga apa yang disampaikan seolah paling punya otoritas. Memang orang ini bukan juru bicara kepresidenan, tapi gayanya kerap ingin terus menguasai dan mengontrol komunikasi. Kalau ada yang menyerang Jokowi, maka tak segan-segan akan melakukan serangan balik. Gaya semacam ini mungkin penting untuk mengamankan kekuasaan, tapi di mata publik tak lebih dari semacam lelucon belaka. Gaya ingin terus mendominasi juga dilakukan misalnya oleh Rocky Gerung. Pada sesi eksplorasi logika mungkin kita terpukau. Tapi, ketika terus ingin menguasai dan mengontrol komunikasi dengan lemparkan kata “Dungu”, “tak punya otak”, membuat publik lama-lama tidak nyaman.

Kedua, dramatic. Gaya yang suka melebih-lebihkan sesuatu. Gaya ini terlihat misalnya dalam diri Ruhut Sitompul. Di masa SBY jadi presiden, Ruhut ini ketika berkomunikasi begitu melebih-lebihkan bagaimana sosok SBY yang begitu negarawan, pemimpin yang pro rakyat dll. Padahal publik juga tahu SBY tak semacam itu. Misalnya, dinilai peragu (tidak tegas) dan tak begitu peduli dengan nasib rakyat. Hanya bergerak misalnya ketika keluarga atau anak-anaknya “disentil”, reaksi muncul. Suka melebih-lebihnya sesuatu atau isu menjadi kurang relevan karena faktanya tidak demikian.

Ketiga, contentious. Gaya seseorang yang suka terus mendebat dan memotong pembicaraan. Wajah nyatanya misalnya terlihat ketika Adian Napitulu atau Arteria Dahlan bicara. Adian memang sosok yang suka terus mendebat dan memotong pembicaraan lawan bicara, hal yang sama dilakukan oleh Arteria Dahlan. Mungkin bisa dimaklumi ketika itu terjadi semasa masih sebagai aktivis yang berseberangan dengan penguasa. Tapi, ketika berada dalam kekuasaan tapi terus mendebat, memotong pembicaraan lawan bicara, tentu membuat publik muak saja.

Dalam komunikasi politik, memang masing-masing punya tujuan ketika berkomunikasi. Tentu, tujuannya adalah pragmatis. Untuk kepentingan dirinya sendiri, kelompok atau partainya masing-masing. Tapi, kalau kita bicara lebih netral, obyektif. Atas nama negara dan peradaban yang lebih bermutu, maka sebaiknya ketiga gaya di atas dihindari. Tentu untuk mencapai inti dari komunikasi itu sendiri yaitu adanya kesepahaman bersama, saling pengertian (mutual understanding). Inilah peradaban komunikasi yang perlu kita rawat bersama.