Media Sosial dan Masa Depan Demokrasi

Kliping

KETIKA internet menjadi life style masyarakat, pola komunikasi di semua bidang ikut berubah. Warga di manapun bisa saling terhubung, mendiskusikan satu topik, dan mengambil keputusan bersama tanpa harus bertemu. Warga yang awalnya hanya menjadi konsumen berita dan kesulitan untuk ikut berpartisipasi menjadi narasumber di media massa, kini bisa bersuara kapan saja dan di mana saja melalui media internet.

Di Indonesia, masyarakat pengguna internet terus mengalami peningkatan. Tahun 2016 dari 256,2 juta penduduk Indonesia, sebanyak 132,7 juta orang menggunakan internet. Dari total pengguna internet, sebanyak 71,6 juta (54%) memanfaatkan media sosial Facebook, 19,9 juta (15%) menggunakan Instagram, dan 14,4 juta (11%) memanfaatkan YouTube.

Ketika Setya Novanto ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK atas kasus dugaan korupsi KTP elektronik, lalu terjadi kecelakaan lalu lintas yang melibatkan mobil yang ditumpanginya, warganet ramai sekali. Banyak muncul sindiran berupa tulisan maupun gambar (meme) tiang listrik yang ditabrak mobil Setya Novanto. Gunjingan itu tak hanya bisa ditemui di media massa, melainkan juga di media sosial seperti blog, Facebook, Instagram, Twitter, dan lain sebagainya.

Fenomena itu menunjukkan siapapun kini bisa mengambil peran di ruang publik. Setiap warga yang terhubung dengan internet bisa berperan layaknya seorang jurnalis. Ia bisa melaporkan informasi kecurangan politik di sekitarnya tanpa harus melalui media massa terlebih dahulu, sebagaimana masa ketika belum ada internet.

Lalu, apakah partisipasi warga di internet berbanding lurus dengan kematangan orang berdemokrasi? Deni Elliott dan Amanda Decker dalam esainya berjudul New Media and an Old Problem Promoting Democracy (Elliott, 2011) menunjukkan bahwa kemajuan teknologi informasi punya dua mata pisau. Satu sisi mampu meningkatkan partisipasi warga, dan sisi lain menuntut tanggung jawab warga. Sebagai jalan ketiganya, warga harus memperoleh pendidikan politik untuk ikut terlibat dan bertanggungjawab dengan perannya tersebut.

Demokrasi Deliberatif

New media sebagaimana diungkapkan Lev Manovic adalah konvergensi antara teknologi komputer dan media. (Manovich, 2006). Teknologi menjadikan informasi milik siapapun tanpa kecuali. Penggunaan new media oleh warga memiliki kaitan erat dengan dunia jurnalisme dan demokrasi. Di new media, masyarakat tanpa kesulitan mampu menyuarakan pandangan-pandangan politiknya. Mereka bisa menyebarkan pandangannya lewat media sosial dan berperan sebagaimana seorang jurnalis. Munculnya jurnalisme warga atau citizen journalism adalah bukti pengaruh new media di masyarakat. Kegiatan jurnalisme yang dulu hanya dilakukan oleh jurnalis kini bergeser maknanya dengan ‘dibolehkannya’ warga melakukan kegiatan jurnalistik.

Sementara itu, kemudahan akses itu juga telah mengubah wajah jurnalisme dunia. Media mainstream tak lagi eksklusif memproduksi informasi untuk disebar ke publik. Meski demikian, produk jurnalistik dari newsroom jurnalis tidak bisa diabaikan begitu saja. Karena informasi jurnalis diperoleh dari analisis dan investigasi yang dikejar secara kolaboratif oleh organisasi yang stabil yang dapat memfasilitasi pelaporan rutin, didukung manajemen yang modern, dan ada pertanggungjawaban secara hukum.

Jurnalis dituntut untuk bisa berkolaborasi dengan warga untuk mewujudkan demokrasi yang kuat, dan bukan berpandangan lama sebagai satu-satunya ‘sumber resmi’. Masyarakat sekarang bisa memilih sumber-sumber informasi yang mereka butuhkan untuk kemudian mempengaruhi cara pikir mereka dan kelompoknya. Dan dengan media sosial mereka bisa membangun opini publik sendiri tanpa campur tangan media mainstream. Sehingga, keberadaan warga internet dan media massa sangat penting di era demokrasi sekarang.

Diskusi Politik

Demokrasi yang dimaksud adalah demokrasi dengan melibatkan publik secara langsung dalam diskusi-diskusi terbuka. Guna mewujudkan demokrasi deliberatif itulah internet berfungsi sebagai sarana mengekspos diskusi politik oleh masyarakat umum. Diskusi itu terjadi setiap saat melalui jaringan online.

Jurnalis dan warga melalui teknologi internet punya peran besar menentukan proses pengambilan keputusan politik. Kontrol negara terkikis oleh kekuatan warga yang aktif di ruang publik untuk mendiskusikan tema-tema penting yang berhubungan dengan kepentingan publik.

(Nanang Fahrudin. Mmahasiswa pascasarjana Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret Surakarta. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Selasa 2 Januari 2018)