Era Turbulensi Media Massa

Kliping

 

ADA optimisme di kalangan jurnalis bahwa media massa cetak tak akan runtuh asalkan terus mengedepankan produk jurnalistik bermutu sehingga mampu menjadi pedoman masyarakat. Sejumlah survei pun menguatkan posisi media cetak sebagai media arus utama yang tetap dipercaya.

Kekacauan distribusi berita atau apa pun yang disebut sebagai ”informasi” mesti diakui telah menyebabkan media cetak selama 10 tahun terakhir mengalami turbulensi. Media cetak pun mengalami kekurangan oplah. Kita mafhum terhadap analisis sejumlah lembaga yang menyebutkan, tren membaca berita oleh masyarakat beralih dari cetak ke dalam jaringan (online).

Dengan kata lain, minat membaca atau mengakses informasi tidaklah turun, tapi berganti platform. Salah satu hasil survei menyebutkan, 79,3% generasi milenial hanya mengandalkan televisi untuk sumber informasi. Orang kini menghabiskan waktu rata-rata 2,3 jam untuk menonton televisi, 2 jam untuk internet, dan hanya 34 menit untuk surat kabar. Mengakses informasi melalui lini masa jejaring sosial pun lantas menjadi kebiasaan. Selain karena terus diperbarui, akses informasi ada dalam genggaman dan tidak berbayar. Nyaris, proses pembacaan informasi bergeser dari teks yang makro ke mikro. Informasi diperoleh sekadar melalui sebuah tampilan gambar, tampilan grafis yang memuat data seadanya, grup-grup WhatsApp, judul-judul yang bombastis, atau bahkan meme.

Prinsip Luhur

Hal yang juga patut untuk kita simak, mengutip data Statista (statista.com, berbasis di Amerika), 41% orang membaca berita dalam jaringan (daring) hanya dari judulnya saja. Dari hasil survei lembaga tersebut, semakin panjang sebuah artikel di internet, semakin mungkin berita tersebut tidak dibaca.

Selain itu, berdasar statisik (59%), berita yang dibagikan di jejaring sosial tidak benar-benar dibaca. Secara faktual, realitas tersebut menunjukkan kepada kita bahwa prinsip-prinsip luhur yang diemban jurnalisme kini bergeser secara pelan-pelan untuk tidak terlalu jauh menyebutnya sedang terancam. Jurnalisme yang mengemban teguh prinsip mendidik masyarakat, membangun optimisme publik, dan kritis terhadap kebijakan, ”dibunuh” oleh kemasan dan pola distribusi informasi.

Sajian informasi yang demikian tentu saja menyuburkan tumpulnya nalar dan cara berpikir kritis masyarakat sebagai konsumen. Berita sebagai produk jurnalistik yang dimasak di dapur redaksi bisa jadi tidak hanya terasa hambar karena penyajian yang keliru, namun salah sejak pemilihan bahan. Dalam konteks yang lebih luas, ”berita” yang sekadar dilihat dari judul tentu saja manipulatif karena bisa dilakukan siapa saja dan ini bisa jadi menjadi ”sumber bencana”.

Jika demikian, sejatinya ada hal ironis yang melanda jagat media massa kita hari ini: cetak semakin tidak dibaca, daring —yang disebut-sebut sebagai evolusi, tolok ukur kemajuan, dan masa depan media— nyatanya tidak benarbenar dibaca. Era turbulensi media massa telah terjadi pada masa pascakebenaran. Era setiap orang kini bebas memproduksi dan mendistribusikan informasi, baik yang dia inginkan atau yang tidak, lebih-lebih di ruang yang dia miliki: internet. Teks, gambar, video, pada masa pascakebenaran adalah konsumsi sekaligus ancaman bagi yang tak siap dan terhasut. Ia bisa menjadi alat fitnah, alat menuju kepentingan politis, bahkan pelanggeng kekuasaan.

Namun, mengutip pernyataan Ketua Dewan Pers Yosep Adi Prasetyo, masyarakat akan terus mencari informasi terpercaya. Informasi yang mendalam disertai data yang memadai akan terus dicari.

Hasil survei The Nielsen Company yang dipublikasikan awal Desember lalu menyebutkan, media cetak dipilih sebagai sumber informasi karena beritanya dapat dipercaya. Sebagian besar konsumen utama media cetak adalah kalangan menengah ke atas dengan usia 20-49 tahun dan bekerja sebagai karyawan. Belanja iklan Januari- September 2017 Rp 21 triliun. Jumlah media cetak pada kurun waktu yang sama 192.

Era turbulensi media mendorong media cetak untuk semakin memperkuat peran. Kita selalu berharap media arus utama menjalankan fungsi menangkal simpang siur. Nyawa media massa, dengan demikian, adalah penjernih atas informasi yang meruyak hebat di tengah berbagai sendi kehidupan.

Bill Kovach, penulis The Elements of Journalism (2001), mengibaratkan media sensasional sebagai seseorang yang ingin menarik perhatian pembaca dengan pergi ke tempat umum lalu melepas pakaian. Orang akan ramai melihatnya. Namun bagaimana si telanjang itu menjaga kesetiaan orang-orang yang melihatnya?

Ini berbeda dengan seorang pemain gitar. Dia datang ke tempat umum, memainkan gitar, dan ada sedikit orang yang memperhatikan. Tapi seiring dengan kualitas permainan, makin hari makin banyak orang yang datang untuk mendengarkan. Pemain gitar ini tentu contoh media yang proporsional.

Menjelang tahun politik pada 2018 dan 2019, proporsionalitas dan integritas media menjadi pertaruhan. Kita optimistis media cetak terus menjadi penjernih di tengah tsunami informasi.

Tahun 2018 juga kembali menjadi ajang pembuktian bagi media cetak: apakah akan ikut telanjang atau terus menyajikan permainan gitar yang memikat semakin banyak orang. (Sumber: Suaramerdeka.com//1/18))

Dhoni Zustiyantoro, pengajar Jurnalistik pada Program Studi Sastra Jawa FBS Universitas Negeri Semarang