Kreativitas Media Profetik Sambut Tahun Politik 2018

kolom

Kreativitas Media Profetik Sambut Tahun Politik 2018
:Yons Achmad
(Pengamat Media. Founder Kanet Indonesia)

Orang bilang,  tahun 2018 tahun politik. Sementara, media (cetak, online, elektronik) maupun media sosial (Twitter, Facebook, Youtube)  banyak  dijadikan sebagai  medan perang. Perang opini, perang wacana. Banyak orang  yang kemudian sepertinya bakal  melakukan “baku hantam”,  menggelorakan peperangan untuk memenangkan opini, wacananya, baik demi kepentingan pribadi, kelompok maupun partai politiknya.

Lantas, bagaimana pegiat media dan media sosial  (Netizen) menyikapinya?

Tentu saja perlu terlibat. Hanya saja, bagaimana keterlibatan di media dan media sosial perlu dilandasi dengan falsafah dan nilai-nilai tertentu sehingga tidak liar. Artinya, melibatkan dalam “perang media”  dengan semangat membabi buta saja, tidak ada nilai luhur yang diusung, konten berkualitas yang dihadirkan.

Singkatnya, keberadaan terlibat dalam dunia media dan media sosial hanya sebatas menjadikannya “sampah  peradaban digital”. Tentu saja, kita tak akan menjadi biang kerok semacam itu. Kita memerlukan kreativitas media  profetik  sebagai amunisi terlibat dalam peperangan itu

Apa itu kreativitas media profetik ? Sebuah kreativitas media yang berdasarkan kepada  nilai-nilai kenabian. Artinya apa? Berlandaskan kitab suci agung masing-masing pegiatnya.

Di dalam Islam,  wahyu menjadi dasar manusia bergerak, beropini, berwacana. Segalanya mesti bersumber pada wahyu. Itulah yang menjadi patokan agar para pegiat media dan media sosial tidak liar. Pemikiran tentang profetik sendiri,   awalnya digagas oleh Prof. Kuntowijoyo (Alm), guru besar UGM. Dasarnya, Quran Surat Ali-Imran ayat 110

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar serta beriman kepada Alah”

Dalam dimensi wahyu itu, setidaknya berisi tigal hal yaitu amar makruf (Menyuruh kebaikan/humanisasi), Nahi Munkar  (Mencegah kemungkaran/liberasi) dan Tukminunabillah (Beriman kepada Allah/Transendensi). Dalam wacana gerakan, kita sering temukan,  liberalisme akan memilih humanisasi. Marxisme liberasi dan kebanyakan agama transendensi, tapi seorang muslim dan netizen profetik  berkepentingan atas ketiganya.

Dalam pemahaman singkat di atas, saya mencoba mengurai sedikit bagaimana peran netizen muslim profetik bisa ikut ambil bagian di zaman media sosial  yang saat ini masih menjadi bagian dari kehidupan keseharian kita.

Humanisasi.  Seorang netizen muslim profetik tentu saja akan  menolak segala bentuk dehumanisasi. Hidup harus  berdasar akal sehat, nilai dan norma. Dengan demikian menolak misalnya penggusuran atas nama pembangunan, menolak  laku gerak, termasuk pilihan politik dengan mengabaikan nilai dan norma agama yang dianutnya.  Menolak abnormalitas, termasuk korupsi. Untuk kemudian kembali menjadi muslim  profetik  rasional yang memanusiakan manusia seutuhnya. Pesan-pesan kemanusian mesti kita gelorakan di jagat maya.

Liberasi.  Pembebasan (liberasi) seperti apa yang perlu digelorakan netizen muslim profetik? Dalam politik, kesewenang-wenangan penguasa atas warganya yang lemah, termasuk menolak pemiskinan sistematis yang dilakukan penguasa (negara). Pembebasan dari penindasan umat secara politik, penindasan ekonomi,  semuanya itu untuk mendorong keadilan di segala bidang. Pesan perlawanan terhadap segala bentuk kezaliman dan penindasan serta penolakan atas kemungkaran yang terang benderang di depan mata perlu terus disuarakan..

Transendensi. Dalam arti punya kesadaran keTuhanan.  Apa yang dilakukan, proses amar makruf (humanisasi) dan nahi munkar (Liberasi) itu bukan hanya didasari oleh dimensi kemanusiaan, tetapi kesadaran untuk menggapai ridhoNya, semakin mendekatkan diri padaNya. Dengan demikian, bukan soal menang atau kalah dalam pertempuran amar makruf nahi munkar, tapi sebuah kesadaran telah menunaikan laku kebaikan di jalan kebenaran yang diyakininya.

Memang, setiap muslim  dengan kreativitas media profetik berkepentingan atas ketiganya. Tapi,  manusia tentu punya keterbatasan. Sehingga, yang sering muncul, masing-masing menonjol dalam satu seginya. Contoh Aa Gym lebih bercorak amar makruf, Habieb Rizieq lebih bercorak nahi munkar. Semua melengkapi.

Sedangkan muslim yang kurang berdaya dan tidak punya kompetensi apapun sehingga hanya bisa berdoa saja, itupun juga berguna. Itu sebabnya diperlukan sebuah komunitas atau jamaah yang solid untuk menjadikannya semuanya itu utuh. Tidak berjalan dan berjuang sendirian.

Inilah basis konsep pergerakan di era sosial media. Dalam praktiknya,tentu saja kreativitas media profetik ini perlu penegasan. Setidaknya, tidak diam ketika ada netizen yang jelas-jelas menyuarakan kemungkaran. Juga, perlu terus memberikan pencerahan wacana yang benar dalam setiap persoalan (isu) yang muncul. Sambil tak lupa terus mengevaluasi pergerakan dengan memohon petunjuk dengan doa, karena doa juga berperan sebagai senjata.

Begitulah. Jadi, selamat berperan  dalam kreativitas media menjadi netizen muslim profetik. Selamat berjuang,  karena tanpa perjuangan, hidup pastilah tak menggairahkan  []