Bunda yang Berjanji Hafal Quran di Penjara

Cerita Inspirasi

Bunda yang Berjanji Hafal Quran di Penjara
Oleh: Yons Achmad
(Penulis cerita inspirasi. Pendiri KanetIndonesia.com)

 Di penjara, kamu akan tahu,
siapa orang-orang yang benar tulus mencintaimu. 
 
(Suge Knight)

Di Sebuah senja. Saat saya sedang menyesap teh pada sebuah kafe di pinggir Jakarta. Ada pesan masuk di inbox facebook saya. “Mas kenal Bunda?” menyebut sebuah nama.  Inbox itu datang dari seorang petugas lembaga  pemasyarakatan (Lapas) khusus perempuan. Tentu saya mengenalnya. Beliau mantan anggota dewan dari sebuah partai politik yang pernah berjaya namun banyak petingginya yang dipenjara. Lama tak berkirim kabar dengannya. Rupanya, beliau sedang terkena kasus.  Yang menjadikannya di penjara selama sekian tahun.  Sementara, umurnya sudah 50-an tahun.

Dulu, beliau ingin menulis buku. Saya membantunya dan akhirnya bisa terbit. Setelah itu sesekali berkirim kabar. Tapi kemudian nomor Hpnya tak bisa lagi dihubungi. Sampai, kabar dari petugas lapas itu mengagetkan saya. Rupanya, beliau sudah sekian tahun  di penjara. Saat sakit  dan dirawat juga di rumah tahanan itu, beliau sempat telepon saya. Menangis kencang. Ingin saya kembali menemuinya. Banyak yang sebenarnya ingin diceritakan, tapi waktu terbatas.

Senin siang. Saya menengoknya di lapas. Badannya kurus, tanpa make up. Memakai baju tahanan. Banyak yang diceritakannya. Yang pasti beliau ingin bertobat dari kesalahan, dan tentu saja beliau ingin kembali menulis buku. Yang draf dan catatan-catatannya sudah dituliskannya di lembaran-lembaran  kertas kumal. Untungnya masih bisa saya baca walau banyak corat-coretan kesalahan di dalamnya. Tapi, yang paling mengharukan, rupanya di dalam penjara, menjadikannya semakin religius. Semakin dekat denganNya.

Beliau bercerita. Sholat tahajud dan shalat dhuha tak pernah ditinggalkannya. Setiap hari selalu menjalani rutinitas itu. Beliau juga punya jamaah pengajian di dalam penjara. Prestasi paling membanggakan, sudah banyak hafalan Qurannya. Dan beliau berjanji dan punya niatan untuk bisa hafal Quran selama di penjara. Tentu saja, pengakuan demikian membuat  saya trenyuh.

Saya tahu. Ya, pengadilan memang telah memutuskan beliau bersalah. Tapi, bagaimanapun juga, saya selalu membuka hati, membuka kesempatan bagi siapapun yang berniat kembali berbuat baik. Toh, saya sendiri pasti juga banyak kesalahan, walau tak sampai di penjara. Apa salahnya turut menguatkannya?. Kini, di usianya yang semakin renta, beliau hanya bisa pasrah dengan keadaan yang menimpanya. Bulan April 2018  menurut perhitungan, beliau akan  dibebaskan. Banyak rencana yang sudah disusunnya. Soal kehidupan keluarga, sudah bukan soal lagi. Anak-anaknya sudah tumbuh dewasa. Telah bekerja menjadi dokter pada beberapa rumah sakit.

Kisah seorang Bunda yang semakin religius dan  ingin hafal Alquran ini seolah menampar hati kecil saya. Setelah satu jam menengoknya, saya ke luar penjara itu. Dalam perjalanan pulang ke rumah, saya hanya bisa malu.  Menghitung berapa surat dalam Alquran yang sudah saya hafal. Ditambah, berapa hari berlalu begitu saja tanpa shalat tahajud atau shalat dhuha. Sementara, badan saya, fisik saya masih sehat-sehat saja. Dan kesempatan juga ada. Hari ini, saya banyak belajar pada seorang bunda yang bisa memetik hikmah kehidupan walau di dalam penjara.

Depok,  5 Desember 2017