Ironi Metro TV, Ironi Kemenag

kolom

Ironi Metro TV, Ironi Kemenag
Oleh: Yons Achmad
(Pengamat Media)

Banyak lelucon era pemerintahan Jokowi. Salah satunya anugerah apresiasi pendidikan Islam kepada stasiun televisi Metro TV oleh Kementerian Agama (Kemenag). Entah apa kriterianya sehingga Metro TV dinilai layak mendapatkan anugerah itu. Yang pasti, rasa-rasanya pemberian anugerah itu sebuah ironi. Alih-alih peduli terhadap pendidikan Islam, berulangkali Metro TV kedapatan sangat nyinyir terhadap banyak hal yang berbau Islam.  Yang terbaru begitu nyinyir terhadap aksi reuni 212 di Monas.

Apakah layak anugerah itu diberikan kalau pemberitaannya kerap menyudutkan, mencurigai  bahkan melabeli gerakan umat Islam?  Padahal yang namanya silaturahmi, sholawatan bersama, memperingati kelahiran Nabi Muhammad, berdoa bersama, berzikir bersama, apakah itu bukan termasuk  pendidikan Islam? Lagi-lagi, kita hanya bisa mengelus dada. Pertanyaannya, apakah kita sebagai publik bisa menggugatnya? Jawabnya, bisa.

Metro TV sebagai sebuah stasiun televisi menggunakan frekuensi publik yang dipinjamkan pemerintah. Artinya, ketika acaranya merugikan masyarakat, tetap bisa digugat, bahkan publik berhak menggugat pemerintah untuk mencabut izin siaran karena bertolakbelakang dari memberikan kemanfaatan kepada masyarakat. Publik juga berhak menggugat, melakukan pengaduan isi tayangan melalui Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) ketika konten acaranya dinilai merugikan publik. Melakukan stigma, melabeli kelompok tertentu dengan sebutan yang buruk bahkan kenyiyiran yang sangat mencolok.

Kita lihat Editorial Media Indonesia yang ditayangkan Metro TV. Dalam salah satu kalimat narasinya dimulai pada menit 3:16, Editorial Media Indonesia yang tayang di  MetroTV menyinggung agenda Reuni Alumni 212 dengan menyebut sebagai perayaan intoleransi.

Celakanya intoleransi itu dipraktekkan untuk kekuasan politik dengan mengatasnamakan agama. Lebih celaka lagi, mereka berencana berkumpul merayakan intoleransi itu dengan gegap gempita, huh. Ini tentu bisa membuat korban intoleransi semakin terluka. Ketika pihak yang terluka disuruh move on, supaya lukanya lekas pulih, pihak sebelah justru menari di atas luka itu dengan merayakan kemenangan mereka secara gegap gempita,” kata narator

Narasi ini tentu saja tak elok. Narasi ini membuktikan bagaimana ironi Metro TV ternyata masih suka mengumbar stigma, suka menghakimi kelompok tertentu, kental nuansa ujaran kebencian dan tidak peka terhadap umat Islam. Sekaligus ironi  bagi Kemenag yang gegabah memberikan anugerah kepada Metro TV sebagai televisi yang dinilainya peduli terhadap pendidikan Islam.

Tapi, apa boleh buat, itulah kenyataan yang bisa kita saksikan di era pemerintahan Jokowi ini. Ini menjadi catatan penting  dan bukti nyata bagaimana Metro TV sangat tidak ramah terhadap umat Islam. []