Traveloka Korban Intoleransi Ananda Sukarlan

kolom

Sikap intoleran Ahoker, Ananda Sukarlan menuai korban.  Kali ini, korbannya Traveloka. Warganet ramai-ramai meng-uninstal aplikasi traveloka. Aplikasi  penjualan tiket  online yang semula dikenal murah itu ramai-ramai diboikot oleh warganet. Penyebabnya, salah seorang pendiri traveloka dinilai turut “mengamini”  tindakan intoleran Ananda Sukarlan yang walkout (keluar) saat Gubernur DKI Anies Baswedan berpidato dalam perayaan reuni Kanisius, sebuah yayasan sekolah Katolik.

Seperti diberitakan media, jagat media sosial dan media massa heboh oleh aksi Ananda Sukarlan yang walk out saat Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan berpidato pada acara peringatan 90 tahun berdirinya sekolah Kanisius di Hall D JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat.  Berita simpang-siur muncul kalau Derianto Kusumo, pendiri traveloka ikut menyalami Ananda Sukarlan dan “mengamini” tindakan Ananda.  Maka, seruan boikot  dan uninstal traveloka itupun berhembus kencang.

Terlepas dari tindakan intoleran ini, tindakan Ananda, seperti pengakuanya sebagai pendukung Ahok, “sebelas-duabelas”  memang mirip “pujaannya”.  Kita mencatat, pada Sabtu, 15 April 2017, Ahok dan wakilnya Djarot Saiful Hidayat tiba-tiba meninggalkan acara Penetapan Peserta Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta 2017 yang diselenggarakan oleh Komisi Pemilihan Umum DKI Jakarta. Saat kalah Pilkada, Jarot pun memilih piknik daripada menghadiri pelantikan Anies Baswedan sebagai gubernur baru. Begitulah faktanya. Politisi medioker yang tak layak dijadikan teladan.

Nah, kenapa traveloka yang menjadi korban? Ya, warganet mungkin tak bisa mengungkapkan kekesalan secara nyata kepada Ananda Sukarlan. Ketika berita pendiri traveloka dikabarkan ikut mendukung tindakannya, tanpa pikir panjang, uninstal aplikasi traveloka sebagai jawaban  “Loe Jual Gue Beli” dari warganet yang kesal. Apa boleh buat, mau bilang pendiri traveloka  tak hadir di acara itu, begitu juga kabar  itu hoax atau bukan,  tak relevan lagi diperbincangkan.

Faktanya, banyak warganet yang sudah uninstal traveloka. Belakangan diketahui, lewat rekam jejak digital, pendiri traveloka memang dikenal sebagai Ahoker. Sama seperti aplikasi  ojek online Grab yang secara terang-terangan juga mendukung Ahok. Terlepas dari isu ini, percaya atau tidak, konsumen muslim sekarang sudah mulai kritis, tak mau  berjual beli lagi dengan sosok atau perusahaan yang terang-terangan anti atau menyerang tokoh muslim atau Islam secara keseluruhan.

Singkat kata, sikap politik  apapun, di era demokrasi  digital sekarang ini sah-sah saja. Tapi, jangan pernah “mewek” kalau sikap politiknya menjadi “bumerang” bagi diri maupun bisnisnya. Itu “hukum rimba”  yang “ganas” di era media sosial sekarang ini.  Siap memangsa siapa saja yang  “sok pahlawan” mendewakan keberagaman, tapi praktiknya intoleran dan kekanak-kanakan.

Yons Achmad. Pengamat media. Founder Kanetindonesia.com.