Pornografi di WhatsApp

Kliping

BEBERAPA hari belakangan ini, tepatnya sejak 5 November 2017, saya mendapat banyak pertanyaan melalui WhatsApp (WA). Isi pertanyaannya adalah benarkah sekarang mudah mencari gambar dewasa melalui WA? Kalau ya, lalu bagaimana mencegahnya agar anak-anak kita tidak membuka gambar-gambar berformat GIF tersebut?

Setelah saya coba, memang cukup mudah menampilkan gambar berformat GIF dengan berbagai topik. Demikian pula ketika kita tuliskan kata-kata yang berbau pornografi, gambar-gambar yang akan ditampilkan memang tersedia cukup banyak. Pengguna lalu dapat memilih gambar bergerak tersebut dan mengirimnya ke teman-temannya melalui WA juga. Hal ini tentu sangat meresahkan para orangtua.

Pertanyaan berikutnya adalah, bagaimana kita mencegah anak-anak dari konten dewasa ini? Menurut saya memang sangat dilematis. Di satu sisi, internet dan jaringan komunikasi di dalamnya ditujukan untuk para pengguna di seluruh dunia. Sudah barang tentu isinya pun sangat beragam. Adakah cara jitu untuk melindungi anak-anak kita dari konten-konten negatif?

Jawabnya mungkin tidak ada yang memuaskan, tetapi ada beberapa cara yang ditempuh. Pertama, orangtua sendiri yang menanamkan pendidikan kepada anak-anaknya, bagaimana memanfaatkan internet, komputer, dan gawai dengan cara yang baik. Bimbinglah mereka ketika memanfaatkan Internet. Kedua, aktifkan parental filter di berbagai perangkat atau aplikasi yang digunakan. Memang tidak semua perangkat memiliki fungsi ini. Sebagai contoh, di Youtube, ada fasilitas Restricted Mode di halaman paling bawah, biasanya diatur dalam kondisi off. Untuk mengaktifkannya, Anda harus login ke Youtube. Setelah itu, Youtube akan berusaha untuk membatasi tampilan kontenkonten dewasa.

Kalau ingin lebih ketat lagi, Anda dapat membuat daftar (playlist) video klip yang boleh dibuka oleh putra-putri Anda. Tetapi Anda tentu harus tahu dan kemudian memilih berbagai video tersebut. Namun cara ini pun tidak terjamin sepenuhnya, karena Youtube sangat mengandalkan kepada crowd sourcing yaitu keputusan para penggunanya. Namun ingat, WA berbeda dengan Youtube.

Ketiga, bagaimanapun, orangtua harus memasang aplikasi tambahan dari pihak ketiga untuk mencegah tampilnya konten-konten negatif ketika anak-anak kita sedang memakai gawai. Aplikasi yang tergolong parental control tersebut misalnya adalah Secureteen Parental Control, Safebrowser, Mobile Fence, Screen Time dan sebagainya. Aplikasi-aplikasi tersebut tidak hanya membatasi konten tertentu (tidak hanya pornografi), tetapi juga dapat membatasi waktu penggunaan internet, situs-situs yang boleh dikunjungi, aplikasi apa saja yang boleh dipakai pada jam berapa, dan sebagainya.

Keempat, masyarakat harus secara bersamasama mengatur penggunaan internet dan kaitannya. Misalnya setiap ada konten pornografi, perlu ditandai sebagai konten yang tidak layak tonton bagi anak-anak. Sebarkan pesan ini ke berbagai teman agar melakukan hal yang sama. Semakin banyak orang yang menandai sebuah konten, semakin mudah pihak penyelenggara konten memfilter koleksinya.

Kelima, negara juga yang akhirnya diharapkan untuk mengatur dan melindungi warganya. Sebagai contoh, pemerintah China telah memblokir twitter dan WhatsApp di negeri mereka, karena lebih sering digunakan untuk provokasi politik.

Di era keterbukaan informasi ini, memang tugas orangtua tidak lagi mudah dalam membimbing putra-putrinya berkelana di dunia maya dan berkomunikasi melalui dunia digital. Selain menggunakan berbagai aplikasi dan cara, tetap masih dibutuhkan pembimbingan dan perhatian kepada putra-putrinya. Selain itu juga jangan mengajak anak-anak untuk memasuki dunia maya terlalu dini. Sekarang anak-anak usia 2-3 tahun saja sudah diberi permainan di ponsel atau tablet, dan bukan permainan boneka atau kitiran dari kertas, atau mobil-mobilan seperti anak zaman dulu.

Alasannya, karena permainan digital bisa dimainkan berjam-jam dan semakin menarik saja, sehingga anak-anak semakin ketagihan. Selain itu, orangtua juga masih punya keluhan, kalau mau mengajak anak-anaknya bermain di luar, fasilitas publik sangat terbatas dan semakin susah dicari. Nah, itu juga jadi masalah kita bersama.

(Dr Wing Wahyu Winarno MAFIS. Dosen STIE YKPN Yogyakarta dan Pengurus ISEI Cabang Yogyakarta. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Selasa 7 November 2017)