Filsafat untuk Kehidupan Seorang Penulis

Review

Judul Buku : Ontologi (Sebuah Penuturan Sederhana)
Penulis : Tony Doludea
Penerbit : Cak Tarno Institute (CTI)
Cetakan : Pertama, September 2017
Tebal : 96 Halaman

Klaim yang disampaikan penerbit atas munculnya buku ini  lumayan meyakinkan. Buku ini berusaha menyampaikan filsafat dengan gaya bertutur yang lancar dan sederhana agar dapat disimak dengan mudah, ringan dan dekat dengan pembaca.  Buku ini membahas Ontologi, sebagai filsafat yang menyoal hakikat keberadaan manusia dan dunianya.  Sebuah buku yang membahas pokok-pokok filsafat Yunani, Kontemporer serta pemikiran Barat dan Timur.  Tujuannya, agar bisa menjadi panduan sederhana dan lengkap untuk memasuki khazanah pemikiran filsafat serta implementasinya di berbagai bidang kehidupan.

Bagi mahasiswa filsafat, tentu saja buku ini berguna untuk pencerahan akademik. Masalahnya, apakah buku ini juga berguna bagi masyarakat awam? Entahlah.  Tapi, berinteraksi dengan sebuah buku, serumit apapun buku itu, sesederhana apapun buku itu, saya orang yang selalu berusaha “mencuri” kemanfaatan ilmu yang disampaikan. Sekecil apapun yang bisa saya ambil. Yah, minimal menambah wawasan bagi karir kepenulisan yang masih saya tekuni sekarang ini.

Dari keseluruhan buku itu, saya tertarik pada pembahasan tentang filsafat itu sendiri (hal 46). Ludwig Wittgenstein (1889-1951) menegaskan bahwa filsafat tidak berusaha menemukan kebenaran melainkan menghapus kekacauan berpikir. Filsafat adalah sebuah bentuk terapi jika dapat mengurai keruwetan dan masalah yang diciptakan oleh cara berpikir yang kurang sehat. Tafsir atas “deklarasi” demikian tentu bermacam-macam.

Bagi saya, pembelajar filsafat yang hanya bisa berpikir ruwet, adalah pembelajar yang gagal.  Sebaliknya, pembelajar filsafat yang bisa menguraikan problem kehidupan dengan ketenangan, yang akhirnya bisa mendatangkan pencerahan, itulah pembelajar filsafat sejati. Tentu saja, tak melulu harus dipaksa melahirkan solusi. Melahirkan pencerahan, itu sudah cukup.  Tak perlu seorang pembelajar filsafat dipaksa menjawab “Lalu apa solusinya?”.

Bagi penulis, filsafat tentu saja punya kemanfaatan agar sang pembelajarnya bisa berpikir sederhana tetapi benar. Walau tak berarti menyederhanakan masalah. Sebuah “penyakit” dari mereka yang kurang baca dan “mengamalkan” filsafat. Kenapa? Sebab filsafat itu sendiri sebuah aktivitas yang selalu meyakini “kedikdayaan” refleksi (perenungan diri) untuk menghasilkan pemikiran yang mencerahkan.  Itu sebabnya, filsafat bisa “mengobati” mereka-mereka yang ruwet cara berpikirnya, suka menyederhanakan masalah secara serampangan, begitu juga mengambil kesimpulan sembarangan. Itulah kemanfaatan filsafat bagi kehidupan, khususnya bagi penulis. Filsafat sebagai terapi cara berpikir, bisa mengindarkan diri dari apa yang disebut “sesat pikir”.

Sejauh ini, pemahaman demikian yang bisa saya petik setelah membaca buku itu. Sebuah buku dari seorang pemikir filsafat yang berhasil menuntaskan pendidikan sarjana filsafat UI, Master Filsafat di STF Driyakara dan Doktor Teologi Universitas Kristen Sorong, Papua. Mohon maaf kalau kurang berkenan. Apa boleh buat, itulah kesederhanaan pembacaan saya.

Depok, 7 November 2017

(Yons Achmad, Founder Kanet Indonesia)