10 Langkah Strategis Pengembangan Forum Lingkar Pena (FLP)

kolom

Menjelang Musyawarah Nasional (Munas) IV Forum Lingkar Pena (FLP) ada baiknya kita berbagi ide dan saran tentang bagaimana mengembangkan FLP.  Sejak berdiri 1997, FLP telah berkiprah dalam membudayakan literasi lewat penerbitan buku, seminar, workshop, training kepenulisan, kampanye literasi, pendirian rumah baca, dan yang cukup penting adalah munculnya banyak penulis yang karya-karyanya mewarnai jagad kepenulisan di tanah air.

Berkaca pada aktivitas FLP sejak 1997 sampai 2017 ini, hemat kami ada beberapa hal yang perlu dipikirkan, direnungkan, dan dikolaborasikan untuk pengembangan FLP tidak hanya dalam karya tapi juga secara organisasi dalam jaringan yang lebih luas.  Renungan dan langkah strategis ini bisa menjadi masukan bagi siapapun yang terpilih sebagai ketua umum FLP pada periode 2017-2021.

Pertama, perlunya tetap menjaga visi dan semangat dakwah dalam berbagai karya dan aktivitas.Pendirian FLP oleh Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, dan Maimon Herawati bertumpu pada dakwah kepenulisan.  Singkat kata, ada banyak penulis yang berbasiskan Islam di Indonesia akan tetapi mereka tidak terhimpun dalam sebuah wadah kolaborasi dan sinergi.  Maka, dibentuklah FLP dengan tujuan utama untuk melakukan kerja bersama (amal jama’i) mengamalkan ajaran Islam secara personal dan komunal serta membudayakan dakwah lewat kepenulisan.

Dalam konteks ini, penting bagi FLP untuk mengeluarkan semacam buku panduan “Dakwah Kepenulisan FLP” yang berisi beberapa nilai-nilai inti (core values) dalam dakwah menulis, seperti: (1) Apa itu dakwah lewat tulisan? (2) Mengapa dakwah lewat tulisan tetap penting di “zaman now”? (3) Bagaimana cara produktif menulis buku? (4) Mengapa dakwah lewat skenario dan pembuatan film juga penting? (5) Bagaimana perjalanan dakwah menulis para ulama Islam? Beberapa konten panduan tersebut cukup penting untuk dimasukkan dalam buku panduan yang sangat membantu agar menjadi pegangan (tidak hanya AD/ART, panduan kaderisasi, dan lain sebagainya) dalam berkarya.

Kedua, pentingnya membuat profil FLP berdasarkan database dari registrasi dan pencapaian dari selama dua puluh tahun. Profil FLP sangatlah penting sebagai branding ketika FLP melakukan berbagai kerjasama dengan lembaga lainnya di dalam dan luar negeri. Hal penting yang perlu ada dalam profil FLP adalah sejarah singkat FLP, data anggota dan karya, kerjasama, prestasi, dan hal-hal penting lainnya. Bisa dibuatkan dalam versi panjang (buku) atau dalam versi singkat (flyer) yang keduanya dipadukan dalam infografis yang menarik.

Profil FLP cukup penting sebagai panduan untuk sosialisasi apa itu FLP, apa kegiatannya, siapa saja orangnya, apa saja karyanya, dan yang lebih penting lagi (terutama bagi orang di luar FLP) adalah apa kontribusi FLP bagi Indonesia yang cinta membaca dan menulis.  Hal ini terlihat ringan akan tetapi butuh untuk dikerjakan secara kolaborasi berbagai kader FLP baik yang bertugas sebagai penulis naskah, editor, desainer, dan lain sebagainya.

Ketiga, pentingnya mengadakan Festival Sastra Islam Internasional (FSII). Beberapa tahun lalu, FLP Sulsel telah menyelenggarakan Festival Sastra Islam Nasional (FSIN) yang sukses lewat berbagai kegiatannya. Pada tahun ke-20 ini cukup penting untuk FLP membuat hajatan yang lebih global yang berskala internasional dengan menghadirkan para penulis dari berbagai negara ke Indonesia. Hal ini berguna untuk penguatan jejaring para penulis atau stakeholderslintas negara dan benua yang kelak bisa berkolaborasi dalam event-event berskala global seperti solidaritas kemanusiaan untuk masyarakat yang terpinggirkan/teraniaya lewat karya bersama, atau kegiatan bersama sebagai salah satu warga dunia yang harus peduli pada kepentingan manusia secara umum.

FSII juga berguna untuk publikasi karya-karya FLP ke ranah yang lebih luas dalam bahasa asing. Maka, terkait dengan festival ini ada baiknya juga dipamerkan berbagai karya FLP baik sejak zaman “old” sampai zaman “now.” Bahkan, bisa jadi setelah FSII ini akan lahir semacam Pusat Dokumentasi Sastra FLP (mungkin seperti PDS HB Jassin) yang lengkap dalam sebuah ruangan khusus sebagai tanda bahwa FLP telah berbuat untuk Indonesia dan kemanusiaan.

Keempat, penerjemahan karya ke bahasa asing. Hal ini bisa dikaitkan dengan FSII pada bagian tiga di atas, atau bisa juga dilakukan secara simultan sampai kepengurusan selesai. Jika melihat sumberdaya kita, paling tidak saat ini kita dapat menerjemahkan karya FLP ke dalam tiga bahasa asing: Arab, Inggris, dan Perancis. Anggota FLP lulusan kampus berbahasa Arab sangat banyak, pun demikian yang berbahasa Inggris dengan nilai TOEFL dan IELTS yang bagus, serta penerjemahan bahasa Perancis. Tiga bahasa ini bisa jadi langkah awal saja dalam penerjemahan karya yang sangat berguna ketika ada acara internasional seperti residensi penulis, atau acara internasional lainnya yang memerlukan karya berbahasa selain Indonesia.

Tentu saja, tanpa melupakan pentingnya bahasa daerah, kita dapat membuat penerjemahan karya ke beberapa bahasa daerah. Saat ini, tidak bisa dimungkiri bahwa banyak daerah di Indonesia yang belum mendapatkan akses pendidikan dan bacaan yang bagus. Di titik itu, jika FLP juga menerbitkan karya berbahasa lokal akan sangat membantu saudara-saudara kita dalam meningkatkan kapasitas pendidikan sekaligus untuk menjaga dan merawat agar bahasa-bahasa kita—sebagai kekayaan bangsa—tidak punah seiring dengan perkembangan zaman. Bermitra dengan Badan Bahasa Kemendikbud cukup penting untuk penerjemahan karya ke bahasa daerah dan merawat agar bahasa daerah tidak punah.

Kelima, pengorbitan 100 penulis tiap tahun.Secara berjama’ah FLP dapat membantu penulis muda untuk menerbitkan karya-karya mereka.Satu tahun 100 penulis bisa dilakukan lewat kerja-kerja efektif untuk membantu para penulis muda. Beberapa penulis tertentu memang bisa eksis dengan sendiri, akan tetapi tidak jarang yang membutuhkan sentuhan institusi untuk itu. Maka, pengorbitan dalam empat tahun (satu periode kepengurusan) kita dapat mengorbitkan minimal 400 penulis muda dengan akan mewarnai Indonesia dengan karya-karya mereka di berbagai toko buku dan acara-acara literasi di Indonesia.

Keenam, pentingnya berbagi kekuatan agar terbangun tim yang kuat di berbagai lini. Pemimpin yang baik, mengutip Patti Azzarello, seorang CEO dan penulis, adalah yang dapat membangun powerful team lewat berbagai kekuatan, bukan dengan hanya menimbun kekuatan pada personal pemimpinnya. Dalam konteks FLP, rentang kendali yang dapat dilakukan (hal ini tentu saja dapat dimusyawarahkan secara teknis) agar ketua umum dapat hadir dalam berbagai kegiatan di wilayah adalah dengan membentuk ketua-ketua teritorial yang meliputi: teritori I (Sumatera), teritori II (Jawa, Madura, Bali, NTT, NTB), teritori III (Kalimantan), teritori IV (Sulawesi, Maluku, dan Papua), dan luar negeri.

Jaringan wilayah yang telah dilakukan pada kepengurusan FLP empat tahun terakhir pada dasarnya hendak menjangkau ke tiap daerah, akan tetapi jika ke depan dibuatkan ketua-ketua teritorial itu akan sangat membantu dalam kerja-kerja empat tahunan FLP Pusat yang dapat dievaluasi. Mudahnya, tiap ketua teritori akan bertanggungjawab terhadap teritorinya kepada ketua umum, dan jika suatu waktu ketua umum berhalangan hadir dalam event-event penting di daerah dapat diwakili oleh ketua teritorial sebagai unsur pimpinan pusat FLP.

Ketujuh, mencari formula platform bisnis FLP.Salah satu masalah FLP saat ini adalah pendanaan. Itu tidak bisa dimungkiri kenyataannya. Saat ini bermunculan berbagai platform yang menawarkan kerjasama dengan FLP lewat pembuatan akun, menulis, dan tiap penulis dihargai dengan sekian dollar/rupiah. Hal ini baik, akan tetapi perlu dipikirkan bersama (mungkin bisa lewat sharing khusus secara internal dan eksternal bersama pakar IT) tentang mungkinkah FLP membuat platform bisnis (sebutlah seperti itu untuk sementara) sendiri yang dapat dikelola, para penulis bisa terus aktif menulis, dan mendapatkan keuntungan finansial? Jika hal ini dapat dibuat, maka ini bisa menjadi karya kita yang cukup penting dalam menghadapi perubahan trend bisnis, peluang, dan adaptasi karya di era digital.

Kedelapan, membuka (kembali) dan merawat kemitraan yang telah terbangun dengan berbagai lembaga yang telah dilakukan oleh ketua-ketua periode sebelumnya: Helvy Tiana Rosa, Irfan Hidayatullah, Intan Savitri, dan Sinta Yudisia. Sejak 1997 FLP telah bekerjasama dengan berbagai lembaga namun seiring perkembangan kerjasama itu hanya berhenti di kepengurusan tertentu, tidak dilanjutkan, padahal ada kemungkinan banyak peluang kerjasama yang dapat diteruskan. Untuk itu, maka membuka dan membangun kembali kerjasama dengan berbagai institusi yang kita pernah kerjasama serta membuka networking baru cukup penting untuk itu.

Apa yang telah dilakukan lewat kemitraan dengan, sebutlah Kemenkumham, pasca penandatanganan nota kesepahaman oleh Ketua FLP Pusat Sinta Yudisia beberapa waktu lalu patut untuk diteruskan dalam bentuk perjanjian kerjasama yang lebih teknis dalam pembangunan karakter dan literasi pada saudara-saudara kita di berbagai rumah tahanan. Memang tidak mudah untuk mengembangkan literasi di rutan, akan tetapi lewat berbagai kolaborasi, hal itu bisa jadi lebih mudah.

Kesembilan, pembuatan channel FLPTV. FLP tidak kekurangan kader yang pakar dalam bidang naskah, video, dan editing. FLPTV (atau sebutlah FLP Channel) di Youtube dapat berguna untuk sosialisasi video ke-FLP-an seperti profil lembaga, profil penulis, wawancara penulis, dan lain sebagainya. Jika dalam satu tahun FLPTV (atau FLP Channel) tersebut dalam memproduksi sebutlah minimal 5 video pendek maka dalam empat tahun telah ada 20 video pendek karya FLP yang dapat diputar dalam berbagai event.  Bahkan, jika memungkinkan video pendek tersebut bisa dikembangkan terus menjadi skenario film, bahkan membuat rumah produksi sendiri.

Apa yang telah dilakukan oleh Mbak Helvy Tiana Rosa lewat film Ketika Mas Gagah Pergi (KMGP) dan Duka Sedalam Cinta (DSC) adalah inspirasi penting bahwa FLP dapat membuat PH atau bekerjasama dengan PH tertentu untuk melahirkan karya-karya film yang berkualitas, layak tonton, dan semaksimal mungkin tetap merawat idealisme dan marketable.

Kesepuluh, menjaga silaturahmi antara kader lewat berbagai event sebagai bentuk kerjasama paling efektif untuk kemajuan organisasi. Sebagai muslim kita meyakini bahwa silaturahmi memiliki banyak sekali manfaat, terutama dalam pengembangan organisasi. Silaturahmi dapat dilakukan secara langsung, atau lewat online (website flp.or.id atau medsos), atau jaringan pribadi. Lewat silaturahmi, saling ajak-mengajak pada supporting program FLP dan keterbukaan untuk memupuk rasa saling percaya sangatlah penting untuk memajukan organisasi secara bersama-sama.

Sepuluh hal ini mungkin bisa menjadi renungan strategis bagi FLP pada Munas IV tahun 2017 ini untuk menambah renungan-renungan, berbagi ide yang telah dilakukan oleh berbagai kader FLP di berbagai sarana. Tentu saja, kita berharap FLP sebagai aset bangsa, aset umat, bahkan aset umat manusia dapat terus dijaga, dirawat, dan terus dikembangkan oleh kita semua. Mari terus berkontribusi untuk FLP! (Yanuardi Syukur).