Memahami Literasi Media Lewat  Film Penghianatan G30S PKI

kolom

Ramai-ramai isu PKI setiap bulan September. TV One, tahun 2017 ini  menyiarkan film Pengkhianatan G30S PKI. Saya pertama kali menonton film itu sewaktu SD dan tentu saja tidak tuntas dan banyak ingatan yang telah hilang mengenai  film itu. Semalam, saya menonton kembali. Film itu tentu menarik dikaji dari beragam sudut pandang. Bagitu juga banyak pesan moralnya. Saya tertarik menggali pesan moral media atas film yang  bisa  bikin banyak simpatisan PKI dan anak-anak kiri “kejang-kejang” kalau menontonnya. Lebih tepatnya, saya tertarik menyoroti bagaimana propaganda PKI melalui media arus utama (mainstream) saat itu. Selanjutnya, menyoroti apakah film itu bisa digunakan sebagai instrumen literasi?

Dalam film itu. Saya tertarik adegan setelah PKI  dengan keji menangkap dan membantai beberapa jenderal angkatan darat. PKI melakukan propaganda lewat media, RRI, menodongkan senjata kepada penyiar radio itu dan pimpinan pemberontakan mengatakan kalau PKI berhasil menyelamatkan Soekarno dari  kudeta yang akan dilakukan Dewan Jenderal.   Setelah keberhasilan itu, PKI juga akan membentuk Dewan Revolusi yang beranggotakan militer dan Sipil, pangkat tertingginya Letnan Kolonel, artinya Let Kol  Untung yang kelak menjadi pimpinannya.  Begitu kira-kira. Tentu saja itu kabar bohong (hoax) alias fitnah. Tapi, dianggap benar oleh PKI.

Yang namanya kabar bohong (hoax), cepat atau lambat pasti terbongkar. Dalam film itu terbukti. Apa pesan moralnya?  hentikan kabar bohong dan produksi hoax.  Jadi, siapapun Anda. Individu, aktivis LSM, perusahaan swasta bahkan pemerintah, jangan coba-coba sengaja kabarkan berita bohong (hoax) lewat media atau sosial media. Sebab, alih alih akan mendapatkan dukungan banyak orang (publik), yang terjadi malah akan “memangsa” Anda sendiri. Misalnya, rakyat sengsara Anda bilang baik-baik saja. Begitulah.

Anehnya, cara-cara inilah yang kini coba dibangun kembali oleh para simpatisan PKI.  Mereka kini mencoba merangsek masuk dengan opininya sendiri. Mengatakan kalau justru film itu begitu syarat dengan propaganda, tanpa sedikitpun memberikan apresiasi sebagai film sejarah dan karya seni. Film yang telah berhasil menggambarkan fakta bagaimana kekejaman PKI yang suka menghalalkan beragam cara untuk mencapai tujuannya.  Kini mereka bahkan terus melakukan propaganda murahan kalau PKI tidak bersalah.  PKI hanya korban konflik di angkatan darat. Sungguh penggiringan opini yang tampak konyol.

Simpatisan PKI kini tak lagi sembunyi-sembunyi melakukan diskusi dan seminar-seminar. Mereka muncul di TV menjadi narasumber dan terus melakukan penggiringan opini. Didukung oleh sejarawan-sejarawan pro PKI dan media-media tendensius yang cenderung mendukung PKI. Media-media yang saat ini juga begitu  rajinmendukung rezim Jokowi  yang kian hari terlihat tak pro rakyat ini. Belum lagi, di media sosial, simpatisan-simpatisan PKI begitu banyak dan tak tahu diri.

Tak malu mencari hidup dan tinggal di negeri ini, sambil terus menggerogoti NKRI. Mereka bahkan sudah mulai berani bicara keras dan menantang siapapun yang kontra PKI.  Ibarat membangunkan macan tidur, begitulah  yang dilakukan kader ideologis dan simpatisan-simpatisan PKI yang ahistoris ini. Nah, sebagai instrumen literasi media, terlepas dari kekurangannya, film Pengkhianatan G30S PKI ini tetap perlu ditonton. Sebagai instrumen edukasi literasi.  Agar anak-anak muda mengerti sejarah yang sebenarnya.  Sejarah kelam kekejian dan pengkhianatan PKI kepada NKRI. Sejarah yang pelan-pelan mau dikaburkan dan dihilangkan.  Tentu saja, ini tak boleh terjadi.

(Yons Achmad. Praktisi literasi media. Pendiri Kanet Indonesia)