3 Manfaat Filsafat Bagi Penulis

kolom

“Kamu baca buku filsafat terus, apa ada gunanya?” Istri saya komentar ketika saya  sedang serius membaca buku filsafat. Saya kaget mendapat pertanyaan itu. Saya jawab saja sekenanya “Filsafat itu penting” tanpa saya jelaskan apa pentingnya. Lebih tepatnya, waktu ditanya itu saya memang belum siap untuk sebuah jawaban apakah filsafat itu memang penting. Ya, terutama bagi seorang penulis. Lebih khusus lagi bagi mereka yang bekerja di dunia media dan penerbitan.

Sejak dulu saya memang suka membaca buku-buku filsafat walau tujuannya sangat pragmatis.  Alasannya, biar ketika menulis, struktur pemikiran saya bagus.  Kemudian lahir artikel yang bagus juga untuk dikirim ke media, khususnya Kompas.  Itu saja. Tak lebih. Hasilnya, beberapa tulisan memang dimuat di media massa. Tapi, saya tak puas. Saya terus melanjutkan baca-baca buku filsafat, tujuannya, kelak bisa menulis buku dengan bagus juga. Kriteria bagus bagi saya, sebuah tulisan itu walau sederhana, pendek  tapi  tetap mendalam. Kalaupun tidak bisa mendalam, dia punya perspektif yang berbeda dari pendapat orang (penulis) kebanyakan.

Itu sebabnya, sampai sekarang, saya masih suka baca buku filsafat.  Lagi-lagi, saya masih yakin kalau filsafat itu sangat penting bagi penulis.  Begitu juga, bagi pekerja di dunia media dan perbukuan. Ada 3 alasan kenapa filsafat itu penting dan bermanfaat:

Pertama.  Menganjurkan Kegiatan Reflektif. Filsafat memang sebuah kegiatan perenungan. Dalam istilah Islam barangkali ini yang disebut tafaqur. Bagi seorang penulis, tentu saja kegiatan ini sangat mendukung bagi terlahirnya sebuah gagasan baru, pikiran baru atau bahkan solusi baru atas sebuah persoalan. Apa jadinya penulis yang tak pernah melakukan kegiatan perenungan? Biasanya, yang terjadi, hasil karyanya boleh dibilang jarang ada yang “dalem”. Atau boleh dibilang hasil karyanya kerapkali biasa-biasa saja. Sebab, tidak digali melaui “Sumur Kedalaman”.

Kedua. Menghapus Kekacauan Berpikir. Filsafat itu bukan merumitkan masalah. Justru, tugasnya mengurai persoalan yang rumit, kompleks, menjadi sesuatu yang mudah dipahami.  Ketika filsafat ternyata hanya menjadikan siapapun malah berpikiran ruwet, maka bisa jadi ada kegagalan menjadikan filsafat sebagai jalan menghapus kekacauan berpikir. Sebab, tugas filsafat justru mencegah kekacauan berpikir itu terjadi.  Persoalan cara berpikir  yang terbebas dari kekacauan ini, yang menjadi perhatian filsafat, sehingga bisa sebagai jalan membedah beragam persoalan secara benar dan jernih.

Ketiga. Menemukan Kebenaran. Pada akhirnya, dengan dua jalan itu.  Perenungan (reflektif) dan pengindaran kekacauan berpikir, maka pembedahan persoalan menuju kebenaran menjadi memungkinkan untuk didapatkan. Mustahil memang, kita bisa menemukan kebenaran tanpa perenungan dan kejernihan berpikir serta cara pandang.  Jadi,  sampai di sini, filsafat bukan saja berguna dan bermanfaat, tapi juga penting untuk diakrabi oleh para penulis.

Untuk itulah, menjadi sebuah kebutuhan bagi para penulis untuk bisa rajin-rajin membaca buku filsafat. Tujuannya jelas, tak membuang-buang waktu, akan tetapi, sebuah usaha yang bisa kita lakukan untuk meningkatkan kapasitas “otak” kita menjadi pribadi yang tekun melakukan perenungan, jernih dalam berpikir sehingga akhirnya bisa memberikan pencerahan yang benar kepada publik.

(Yons Achmad. Founder Kanetindonesia.com)