Dua Buku Mendagri Tjahjo Kumolo

kolom

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis,
ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.”

(Pramoedya Ananta Toer dalam Rumah Kaca)

Ungkapan (Alm) Sastrawan Pram itu begitu banyak dikutip. Tapi ada yang bilang, kalau tidak menulis, setidaknya kisah hidup, cerita dan pemikiran kita ada yang menuliskan. Itulah yang terjadi pada Mendagri era pemerintahan Jokowi, tak lain tak bukan Pak Tjahjo Kumolo.

Beliau berhasil melahirkan dua buah buku yang ditulis orang lain. Ditulis secara keroyokan oleh beberapa orang. Ditulis oleh para jurnalis yang berkesempatan dekat dengan pribadi sang tokoh. Baik dalam urusan pribadi maupun disaat membersamainya dalam suatu kegiatan dan tugas kenegaraan. Cerita-cerita yang kemudian dibukukan dalam dua buku ini. Rupanya, satu buku tak cukup menampung beragam cerita sang tokoh.

Buku, bagaimanapun tetap penting. Cerita-cerita dalam buku ini bisa menjadikan semua orang terinspirasi. Terutama, mereka yang kelak akan menjadi salah satu pemimpin di negeri ini. Atau bahkan siapapun Anda, tak peduli latarbelakangnya apa tetap bisa mendapatkan pelajaran ketika membaca buku ini.

Tradisi melahirkan buku di kalangan pejabat publik saya kira sebuah tradisi yang baik. Awalnya memang hanya cerita-cerita ringan saja, biografi dan perjalanan hidup sang tokoh. Tapi, ke depan, kita harus mendorong setiap anak bangsa di negeri ini untuk juga ikut menyumbangkan buah pikirannya untuk kemajuan bangsa. Terkait dengan dua buku Pak Tjahjo ini, Kanet Indonesia cukup senang bisa terlibat dalam penerbitannya. (Yons Achmad. Founder Kanet Indonesia. WA:082123147969).