Pesan Gus Dur ke PKI, Menulislah !

kolom

Dalam acara ILC episode “PKI, Hantu atau Nyata?”  (19 September 2017), ada pengakuan menarik. Ilham Aidit (Putra Ketua PKI DN Aidit) bercerita. Suatu ketika  beberapa tokoh PKI dan mereka yang mengaku korban datang ke Gus Dur untuk meminta pendapatnya.  Gus Dur, waktu itu mengatakan “Terus bersuara dan teruslah menulis”.  Rupanya, pesan inilah yang mungkin membekas dan benar-benar dilaksanakan.

Hasilnya, seminar, diskusi dan tulisan yang membela PKI bertebaran sampai saat ini.  Kelompok-kelompok diskusi, LSM, penerbitan maupun media online bahkan film-film pendek  ramai-ramai membela PKI. Tak terkecuali adanya  politikus, intelektual, sejarawan  yang  baik terang-terangan maupun memakai jalan memutar tampak begitu membela PKI. Apakah efektif? Boleh dibilang efektif. Pelan-pelan menggiring opini PKI sebatas korban, bukan pelaku kejahatan.  Untungnya, banyak pula publikasi atau buku tandingan yang membantah argumen pro PKI itu.

Saya tak akan terlibat debat soal “politik” itu. Tapi, saya akan menyoroti perihal pesan literasi Gus Dur ke PKI itu. Saya kira, benar adanya.  Seorang penulis, apalagi penulis muslim, juga perlu menangkap pesan literasi yang disampaikan Gus Dur ini.  Teruslah bersuara, teruslah menulis !

Masalahnya sekarang, mau menulis apa?

Menulis dalam gerakan sosial tentu saja bukan sekadar merangkai kata. Menulis atau seorang penulis, boleh dikatakan dia adalah “Pekerja Revolusi”.  Istilah penulis sebagai “Pekerja Revolusi” ini saya dapatkan ketika diskusi informasi di Kedai Buku Cak Tarno Institute, FIB Universitas Indonesia (UI). Artinya apa, dia menulis untuk menggerakkan, mengubah dirinya sekaligus mengubah masyarakat dengan pandangan yang benar untuk menjalani hidup. Terkesan rada berat ya ocehan ini. Tapi, apa boleh buat, itulah yang semestinya dipahami.

Bagi seorang muslim, idealnya, ketika dia memilih atau sedang melakukan aktivitas tulis menulis, maka, jalan yang mesti diambil adalah MENJADI PENULIS PROFETIK.  Muatan tulisannya bukan sekadar kata-kata mendayu-dayu, berputar-putar tak jelas arahnya atau dengan bahasa abstrak tapi sebenarnya untuk menutupi ketidakpahamannya atas  topik yang ditulis.  Sebagai penulis profetik, apapaun bentuk tulisannya, sesederhanapun tulisannya, setidaknya selalu punya 3 konten. Mengajak kepada kebaikan  (humanisasi), melawan kemungkaran (liberasi) dan selalu menjadikan seseorang ingat dengan Tuhannya, Allah Swt (Transendensi).  Itu.

(Yons Achmad. Founder Kanetindonesia.com/WA: 08212314769)