Penulis Seharusnya Tak Apolitis

kolom

penulis muslim
Penulis Seharusnya Tak Apolitis
:Yons Achmad*

Saya dengar di salah satu group WA Forum Lingkar Pena (FLP), organisasi kepenulisan terbesar di tanah air. Ada yang “ngamuk” karena terlalu banyak diskusi membicarakan politik. Dilarang bicara politik karena group itu group para penulis (group kepenulisan). Saya heran, kenapa bisa begitu. Kenapa dunia kepenulisan harus dipisahkan dengan dunia politik?

Saya jadi teringat Chairil Anwar dan kenapa dia kemudian tertarik dunia kepenulisan. Tepatnya dunia kepenyairan. Dari obrolan tentang “Chairil Anwar dan Kita” di Bentara Budaya, Jakarta, saya dapat informasi dia tertarik dunia kepenulisan karena sihir politik di dalamnya. Bahwa tulisan bisa sangat berbahaya karena bermuatan politik yang pro perubahan.

Hal itu disadarinya ketika kedapatan membaca novel “Layar Terkembang”. Oleh Belanda, buku itu dilarang dibaca. Karena Chairil bersikeras membacanya, akhirnya Chairil Anwar ditangkap. Chairil Anwar bergumam dalam hati “Ternyata tulisan bisa berbahaya”. Kira-kira begitu pengakuannya.

Sejak itu dia total masuk ke dunia kepenulisan, dunia kepenyairan.

Dia total hidup sebagai penyair. Untuk mengolah kata menjadi sebuah puisi dia kadang membutuhkan waktu berbulan-bulan. Bahkan sampai berantem dengan istrinya karena tak juga menghasilkan karya. Hingga akhirnya terpaksa bercerai dengan istri ketiganya.

Ceritanya begini, istrinya bernama Hafsah. Seorang, katakanlah PNS di jaman itu. Gajinya Rp. 75. Sementara honor menulis puisi Chairil Anwar Rp. 25 sekali dimuat. Suatu saat Hafsah bilang ke Chairil “Kamu kalau bisa sebulan menulis 3 puisi, biar sama dengan gajiku”. Sebagai seniman Chairil marah karena diperlakukan seperti itu. Dia merasa seniman tak bisa dituntut seperti itu. Untuk bisa buat puisi yang bagus, dia kadang menghabiskan waktu berbulan-bulan. Singkat cerita, karena peristiwa itu, konon bercerailah mereka.

Bagi pembaca era sekarang, mendengar Chairil Anwar mungkin yang terngiang sebuah sajaknya “Aku Ini Binatang Jalang”. Sajak ini memang dahsyat. Membongkar pakem bahasa waktu itu. Chairil memang lain. Chairil memakai kata “jalang” yang artinya “pelacur”. Semua kaget ketika dia memakai kata itu. Tapi, akhirnya pelan-pelan orang mengerti. Yang dia maksud bukan itu, bukan pelacur. Chairil mengartikan “jalang” kira-kira sebagai manusia baru, pemberontak, berbeda dengan zamannya. Oleh pengkaji sastra kekinian Chairil dikatakan berhasil membawa tafsir baru berbahasa. Walau dulu karyanya sempat dilarang misalnya oleh Taman Siswa karena dinilai merusak bahasa.

Tapi, terlepas dari itu. Poin penting dari seorang penulis adalah gagasan. Bukan sebatas perasaan. Dan gagasan itu adalah politik. Seorang penulis saya kira akan terlibat keduanya. Kalau anti pati terhadap politik, yang ada bisa terjebak ke kubang perasaan saja. Bisa produktif menulis. Tapi karyanya biasa saja. Tak punya pengaruh apapun selain mengaduk-aduk perasaan.

Misalnya hanya terjebak pada karya-karya yang hanya bicara senja, hujan dan air mata. Menyenangkan. Menenteramkan. Saya jujur juga sering terjebak ke dunia “menye-menye” ini, bahkan sering.Tapi kemudian ksaya sadar, seringkali karya semacam itu apolitis dan abai terhadap fenomena jaman dengan cerita-cerita anak bangsa yang terpinggirkan, termarginalkan seperti yang bisa kita saksikan di dunia terdekat kita. Sekitar kita.

Memang, boleh-boleh saja bicara senja dan hujan ala Sapardi Djoko Damono. Atau sesekali seperti Chairil yang menulis sajak “Senja di Pelabuhan Kecil”. Tapi, dia juga menulis sajak yang di akhirnya berbunyi:

“Kawan-kawan
Kita bangkit dengan kesadaran
Mencucuk menerang hingga berulang
Kawan-Kawan
Kita mengayun pedang ke dunia terang”

Mengayun pedang sebut saja memberontak. Dunia terang kita tafsirkan bendera Jepang. Alhasil sajak itu dinilai berbahaya oleh pemerintahan Jepang waktu itu sehingga dilarang beredar.

Begitulah. Saya kira dan seharusnya, penulis memang tak boleh apolitis. Tetapi harus terlibat dalam perkembangan dunia kekinian. Termasuk tak boleh abai terhadap kekuasaan yang sewenang-wenang dan menindas. Saya kira penulis yang anti politik bisa dikatakan anti gagasan (perubahan). Dan saya kira, di era rezim badut politik 2014-2019 sekarang ini, bukan saatnya menulis senja, hujan dan air mata. Tapi menggelorakan kata-kata sebagai senjata.

Palmerah, 21 Februari 2017

*Penulislepas. Founder Kanetindonesia.com (Content Agency). Wa:082123147969