Menyoal Pemblokiran Situs Habibrizieqcom

kolom

situs-habibrizieq

 

 

Aroma orde baru  kembali terasakan diera rezim pencitraan Jokowi. Berangus memberangus secara sepihak dilakukan tanpa mempertimbangkan misalnya melalui argumen rasional lewat pengadilan.  Yang paling anyar, pemberangusan media personal milik  Ketua Front Pembela Islam (FPI) yang beralamat di Habibrizieq.com. Saat kolom ini ditulis, situs sudah tak bisa diakses.

Beberapa alasan saya baca di media.  Detikcom (1/12) melansir keterangan dari Plt Kepala Biro Humas Kemenkominfo Noor Iza yang menyatakan bahwa pemblokiran situs itu dinilai mengandung muatan yang meresahkan masyarakat. Okezonecom (27/11) memberitakan, selain karena meresahkan pemblokiran terkait dengan konten yang berisi ancaman, provokasi, SARA. Dikatakan, pemblokiran tersebut diajukan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika bersama lembaga terkait seperti Kepolisian, BIN, dan BNPT.   Sementara, Republikacom (28/11) menyebut alasan pemblokiran karena bermuatan ujaran kebencian.

Pertanyaannya,  situs itu meresahkan masyarakat yang mana? Ancaman seperti apa? Provokasi siapa? SARA yang bagaimana? Ujaran kebencian kepada siapa? Pertanyaan-pertanyaan ini mestinya dijawab tuntas. Sayangnya, Kemenkominfo rupanya tak punya alasan logis dan detail kenapa pemblokiran itu dilakukan. Kemenkominfo dalam kasus ini sekadar menjadi alat kekuasaan alias operator penguasa. Menyedihkan.

Saya sendiri membaca media milik Habib Rizieq ini  sebagai bentuk nahi mungkar (liberasi). Satu diantara kharakteristik media profetik yang sempat muncul dalam diskusi tentang pers Islam. Meminjam istilah cendekiawan muslim Kuntowijoyo (almarhum) di mana semangat profetik (berbasis kenabian) mencakup amar makruf (humanisasi),  nahi mungkar (liberasi) dan tukminunabillah (transendensi). Selaras dengan Al-Quran surat Ali-Imran ayat 110.

Dalam hubungannya dengan kekuasaan,  media humanisasi yang misalnya bagaimana kita harus peduli terhadap sesama, menganjurkan sedekah, memang  biasanya cenderung dibiarkan oleh penguasa. Begitu juga media media transendensi yang barangkali berisi tentang bagaimana kita beribadah kepada Allah, bagaimana cara seharusnya agar kita bisa mendekatkan diri kepada Allah juga  tak akan banyak dipersoalkan. Tapi, kalau sudah muncul media liberasi (pembebasan), menolak kedholiman, mengancam status quo kekuasaan, kritis terhadap penguasa, maka siap-siap saja media demikian diawasi dan kalau perlu diberangus. Dan kini, semua itu terjadi.

Pemberangusan ini saya kira tidak berjalan spontan begitu saja. Saya kira, pemerintah sedang memainkan (Miminjam konsep Louis Althusser) apa yang disebut dengan Ideological State Aparatus (ISA) alias memberangus inforrmasi yang  kemungkinan besar bersebarangan dengannya. Walaupun, sebelumnya permainan Represeive State Aparatus (RSA)  melalui aparat dan militer juga digunakan untuk menakut-nakuti masyarakat sipil yang berhasil bergerak menghimpun  setidaknya 2,2 juta orang dalam barisan 411 melawan dugaan pelanggarakan hukum penistaan agama yang dilakukan pejabat. Kali  ini bukan presiden, tapi “anak kesayangan” presiden.

Masalahnya sekarang, apakah tindakan pemblokiran itu dibenarkan? Mungkin iya kalau yang diblokir misalnya situs-situs pornografi, judi online dsb. Tapi, kalau situs-situs yang kritis  dengan kekuasaan diberangus,  apakah efektif? Tidak, karena justru, melihat pengalaman keIndonesia, kita ini akan lebih maju hanya dengan kritik kepada kekuasaan, bukan puji-pujian yang membuat penguasa lupa diri.

Saya pribadi, melihat situs Habis Rizieq itu sebagai media alternatif yang tak seharusnya diblokir. Tapi perlu terus dihidupkan dan dikembangan dengan baik.  Termasuk, media-media alternatif lain. Walau tentu saja perlu kritis juga masyarakat menyikapi konten-kontennya. Saya percaya, masyarakat saat ini tak bodoh.  Mereka akan selektif dalam menyerap informasi yang datang dari beragam media.  Hari ini, kita masih membutuhkan media yang benar-benar bertindak sebagai media, bukan sekadar “Medium” alias corong (penguasa).

Jakarta, 1 Desember 2016

*Yons Achmad. Pengamat media. Founder Kanetindonesia.com