Jakarta untuk Rakyat: Dari Jargon Menuju Program

kolom

agus-yudhoyono-jakarta-untuk-rakyat

Setelah mendaftar calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI 2017, pasangan Agus Yudhoyono dan Sylviana Murni meluncurkan jargon (tagline) Jakarta untuk Rakyat. Menurut pengamatan saya jargon ini belum dipakai oleh pasangan lain atau para gubernur dan wakil gubernur sebelumnya. Saya melihat, dengan dipilihnya jargon tersebut, ada semangat perubahan yang ditawarkan oleh pasangan Mas Agus dan Mpok Sylvi. Artinya, benar-benar ada penekanan bahwa program mereka adalah untuk rakyat. Hal ini bagai sebuah harapan baru bagi rakyat Jakarta karena rakyat ditempatkan sebagai objek perubahan dan sekaligus subjek perubahan itu sendiri.

Berbeda dengan jargon ketika dulu era Jokowi-Ahok, yang diusung adalah Jakarta Baru. Obyeknya adalah Jakarta sebagai kota, tanpa memperhatikan rakyat yang seharusnya menjadi subjek sehingga pendekatan dan pemberdayaannya lebih tampak. Kalau Jakarta untuk Rakyat, saya menafsirkan kita akan kembali kepada manusianya, pemimpin merangkul rakyat nya untuk bersama sama membangun kota Jakarta yang kita cintai. Kita tidak semata mata tertuju kepada Jakarta dengan gedung-gedung dan fasilitas yang dibangun mewah tapi ternyata hanya membuat rakyat miskin terusir.

Menjadikan rakyat ini menjadi tujuan dan sekaligus penentu pembangunan menurut saya sudah benar. Artinya, boleh dibilang rakyat jakarta punya harapan baru karena rakyat adalah bagian dari penentu kemajuan kotanya. Artinya program pembangunan tidak semata mata dibuat dari atas ke bawah (top down) tapi juga dari bawah ke atas (buttom up) sehingga terjadi harmonisasi rakyat dan pemimpinnya.

Karenanya perlu keterbukaan pemimpin dalam pelaksanaan program Jakarta untuk Rakyat itu. Maka dari itu, yang dibutuhkan sekarang adalah bagaimana menerjemahkan sebuah jargon menjadi program-program konkrit yang berpihak kepada rakyat.

Siapa yang disebut rakyat? Bagaimana pemberdayaan rakyat ke depannya? Kenapa harus ada pemberdayaan tersebut dll harus bisa dijawab oleh Mas Agus dan Mpok Sylvi. Harusnya, program-program detail sudah dimulai dan disampaikan kepada rakyat. Artinya, teknisnya, setiap Minggu bisa dimunculkan program-program Jakarta untuk Rakyat itu. Yang terpenting, bagaimana memunculkan program yang berbeda dan lebih baik dari program Gubernur dan wakil Gubernur terdahulu.

Saya tetap berharap bahwa apa yang sudah dilakukan oleh Gubernur-Gubernur sebelumnya tetap harus di apresiasi. Semua Gubernur punya keunggulan dan kekurangannya masing-masing. Jadi tidak perlu ada klaim dan merasa paling hebat. Sebagai bentuk penghargaan atas pencapaian tersebut, apresiasi diperlukan bagi pasangan yang sedang berkompetisi ini.

Nah, sekarang ini Mas Agus maupun Mpok Sylvi tentu punya tantangan yang berbeda pada jaman atau era yang dihadapi sebelumnya. Misalnya, kita perlu apresiasi Gubernur Foke yang membangun Kanal Banjir Timur (KBT) setelah direncanakan secara matang oleh Gubernur Sutiyoso. Diselesaikan era Jokowi. Semuanya itu saling melengkapi, menyempurnakan.

Ke depan, Mas Agus dan Mpok Sylvi juga semestinya begitu. Melanjutkan program-program yang bagus, serta memunculkan program-program baru yang sesuai tantangan jamannya. Program-program yang selaras dengan jargon Jakarta untuk Rakyat itu. Yang fokus kepada pembangunan manusia.

Apa hasil akhirnya? Membuat rakyat tenang, aman, nyaman, sehat, pintar, sejahtera. Untuk membuat rakyat bisa seperti itu, kita perlu melihat program-program konkrit apa yang akan dicanangkan pasangan Mas Agus dan Mpok Sylvi. Kita tunggu saja program-programnya. Dan selanjutnya, kita akan sama-sama kritisi satu persatu agar semakin sempurna dan tepat sasaran.

(Penulis. dr. Chairil Anwar Soleh, SP, An/Bekerja sebagai dokter pada salah satu Rumah Sakit/ Bergiat di komunitas Betawi Kumpul).