Pilkada DKI: Momentum Kebangkitan Budaya Betawi

kolom

agus-yudhoyono-dan-sylviana-murni

Ada orang di lingkungan kerja saya, yang begitu memuji kepemimpinan Ahok. Dia bilang “Ahok itu tegas, kerjanya kelihatan, tidak seperti gubernur-gubernur sebelumnya”. Saya bilang ke dia “Ahok mungkin bagus di mata bapak, tapi tidak di mata saya”. “Tahu nggak kenapa saya tidak akan memilih Ahok? Karena dia telah menghilangkan budaya saya, budaya Betawi”. Saya katakan, saya benar-benar kecewa dengan tingkah polah Ahok yang sudah kelewatan dan kurang ajar.

Teman saya itu berasal dari salah satu suku di Sumatera. Saya katakan lagi. Coba bayangkan kalau bapak di posisi saya. Kalau ada orang yang hanya “Kecelakaan sejarah” kemudian jadi gubernur, dia datang dari antah barantah, lalu dengan seenaknya menghancurkan budaya Betawi. Tentu saja, siapapun pasti marah. Jadi silakan orang mau bilang Ahok itu bagus, tapi tidak bagi saya. Ini argumen yang saya kemukakan kepadanya. Sejak itu, dia tak pernah lagi memuji-muji Ahok di depan saya.

Budaya dan Islam, bagi masyarakat Betawi tak bisa dipisahkan. Dulu, saya masih bisa temukan budaya Betawi, diantaranya takbiran keliling. Di era Ahok, budaya dan tradisi ini malah dilarang. Belum lagi maraknya penggusuran yang mengakibatkan banyak masjid yang dirobohkan. Contohnya masjid Amir Hamzah, di Taman Ismail Marzuki (Tim) Cikini. Janjinya, dulu dirobohkan untuk diganti dengan masjid yang lebih bagus, nyatanya sampai sekarang janji itu tidak pernah terlaksana. Sekarang kalau mau sholat orang harus masuk ke basement yang panas, gelap, sempit dan bau. Ini juga bentuk kesewenang-wenangan. Entah bagaimana jalan berpikirnya, dengan seenaknya saja pemimpin arogan dan bermulut kotor itu terus melakukan kebijakan yang kadang juga melanggar aturan dan hukum. Entah kenapa juga, dia tak pernah tersentuh hukum. Padahal banyak kasus yang membelit seperti kasus Reklamasi, RS Sumber Waras dsb.

Saya paham, dia berani melakukan itu karena ada kekuatan dibaliknya. Kekuatan modal dari konglomerat. Saya membaca, pasti ada kekuatan lain yang menyetirnya. Ahok boleh dibilang hanya bonekanya. Dengan dasar inilah, sebagai warga Betawi, saya sebagai pribadi maupun yang aktif dalam komunitas warga Betawi perlu adanya perubahan. Penyegaran. Kami harus bisa keluar dari kepemimpinan yang banyak merugikan budaya Betawi sekaligus umat Islam ini.

Kabar baiknya, muncul tokoh Betawi yang mewarnai kancah pilkada DKI. Tak lain tak bukan, Prof. Dr. Sylviana Murni, SH., Msi. Saya kenal dengan beliau sebagai orang Betawi. Ini sebenarnya sebuah kesempatan bagi saya untuk memberikan dukungan kepadanya. Artinya, saya tidak perlu ngomong lagi untuk bagaimana mempertahankan dan mengembangkan budaya Betawi karena orang Betawi sendiri sudah ada yang mewakili.

Sekali lagi, saya tak ragu lagi bilang Ahok mulutnya kotor, banyak kata-kata tak pantas dan lontaran-lontaran tanpa pikir panjang dipertontonkan di berbagai media. Saya katakan, sangat tidak pantas pemimpin itu berkata kotor. Kita tahu ciri khas pemimpin yang mulutnya kotor itu hanya ada di geng-geng preman. Pemimpin harus ditiru. Masa kita ikhlas masyarakat nanti juga ikut-ikutan ngomong kotor kayak dia. Jelas ini jangan sampai terjadi. Masak kita apresiasi pemimpin model begini, seperti tak ada orang lain saja. Padahal kita sama-sama paham, pemimpin itu kan panutan bagi yang dipimpinnya sehingga seringkali ditiru oleh masyarakatnya. Tentu saja, kita tak menginginkan hal ini terjadi.

Saya orang Betawi, ngomong kasar (bukan kotor) sesekali mungkin iya, saya ngomong dengan orang yang selevel, itupun hanya kepada orang yang sudah sangat dekat. Tapi, dengan orang yang tidak dikenal, walaupun dia lebih muda, apalagi yang lebih tua, tidak akan pernah bicara semacam itu. Ini gubernur hobinya, berkata-kata kotor, main tuding sana sini. Yang menjadikan Jakarta terlihat sangat tidak manusiawi sekali.

Untuk itu, saya tentu tidak akan banyak berharap kepada Ahok yang telah menghancurkan budaya kami. Kami tidak rela dengan perilaku dan kebijakan yang dipertontonkan tersebut. Saya hanya bisa berharap kepada orang ini, Sylviana Murni. Untuk menghidupkan, melestarikan dan memajukan budaya Betawi. Pilkada DKI 2017 nanti, saya kira memang momentum yang tepat menuju kebangkitan budaya Betawi. Budaya-budaya yang dimatikan Ahok, kita angkat kembali.

Lalu, bagaimana dengan Agus Yudhoyono? Saya percaya, Mas Agus Harimurti Yudhoyono, sebagai calon Gubernur berpasangan dengan Mpok Sylvi, dia sangat menghargai budaya. Kita bisa lihat dari didikan SBY yang berhasil mengajari anak-anaknya yang begitu santun dalam berkata maupun berperilaku. Saya sangat percaya, sebagai orang Jawa, sopan-santun itu tentu sangat dijaga. Dan, ini berpotensi menjadi modal ke depan, jika keduanya terpilih budaya Betawi semakin diapresiasi. Jadi, kita tidak perlu ragu lagi, ayo Engkong, Nyai, Nyak & Babe, Ncang, Ncing, Abang & Mpok, pilkada DKI ini kita jadikan sebagai momentum bangkitnya kembali kebudayaan Betawi.

(Penulis. dr. Chairil Anwar Soleh Sp.An/Bekerja pada salah satu rumah sakit di Jakarta/Bergiat di Betawi Kumpul).