Agus Yudhoyono Harapan untuk Jakarta

kolom

agus-harimurti-yudhoyono

Muda, Cerdas, Santun. Itu kesan saya ketika disodorkan nama Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Sosok yang saat ini digadang-gadang untuk bisa menjadi orang nomor satu di Jakarta, berpasangan dengan Sylviana Murni dalam pilkada kali ini. Nama ini tak pernah dimunculkan sebelumnya. Bahkan, tak ada satupun pengamat politik yang membahasnya, apalagi menganalisis peluangnya untuk bisa berkiprah di dunia politik.

Baru setelah namanya muncul, didukung oleh beberapa partai berbasis Islam, ramai-ramai orang berkomentar. Tentu, ada yang mendukungnya, ada pula yang menganggap enteng dan tak menaruh perhatian terhadapnya. Tapi, bagi saya, Agus Yudhoyono adalah harapan untuk Jakarta, kenapa?

Kita butuh sosok yang baru dalam kancah politik. Tidak itu-itu saja. Dan Agus Yudhoyono menjawab kebutuhan ini. Stok lama yang muncul kembali kita tahu, Ahok. Secara pribadi, baik secara intelektual maupun sebagai orang Betawi, saya tentu tak akan memilih tokoh ini. Sampai kapanpun. Sebagai orang Betawi, yang tentu saja nilai-nilai religi begitu kental dianut, alangkah konyolnya ketika memilih sosok ini.

Argumen saya sederhana, sangat tidak mungkin syiar Islam akan berkembang dan maju ditangan tokoh non-muslim. Gubernur yang muslim saja belum tentu komit dan serius dalam menata ibu kota dan menyemarakkan syiar Islam, apalagi yang non muslim. Tentu harapan itu tak ada. Dan, saya menilai AHY adalah harapan itu.

Lantas, bagaimana dengan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno. Saya kira, keduanya orang baik. Sandiaga Uno, dia juga sosok pengusaha yang santun, religius. Menurut pengakuan dan pemberitaan di media massa, sosok ini juga rajin misalnya shalat Dhuha. Saya tentu sangat menyukai tokoh semacam ini. Ya, walau dalam urusan politik mungkin bisa dibilang baru.

Sekarang, soal Anies Baswedan bagaimana? Dia juga sosok yang menarik, kiprahnya bagus, baik misalnya ketika menginisiasi Gerakan Indonesia Mengajar, maupun ketika menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Tapi, saya agak kurang suka dengan jejak rekamnya.

Dulu, tokoh ini begitu bersemangat membela Jokowi-JK dalam pemilihan presiden. Kubu yang tentu berseberangan dengan Prabowo (Gerindra) maupun PKS. Bahkan, bisa kita baca juga rekam jejaknya bagaimana tokoh ini melakukan kritik habis-habisan terhadap Prabowo, termasuk bagaimana kubu Prabowo dinilai sarangnya mafia.

Tapi, setelah “Ditendang” Jokowi dari kursi Menteri dan menjadi pengangguran politik, tokoh ini (Maaf) tanpa malu-malu lagi (lebih tepatnya tidak tahu malu) menerima pinangan partai Gerindra dan PKS sebagai calon gubernur Jakarta 2017. Memang, inilah dunia politik. Tapi, saya pribadi tidak begitu suka dengan “teladan” semacam ini.

Apa boleh buat, yang tersisa hanya AHY. Bismillah. Saya kira, lagi-lagi saya katakan, inilah harapan. Kita perlu sosok baru untuk Jakarta. Dan, ketika berpasangan dengan Sylviana Murni, lengkaplah sudah. Dia akan didampingi oleh sosok penuh keibuan, yang mengerti birokrasi, berpengalaman dalam pemerintahan di DKI Jakarta.

Memang, yang namanya pilkada, tak ada pilihan selain harus menang. Karena kalah hanya menjadi pecundang. Tapi, bagi saya, menang atau kalah tak jadi soal. Yang terpenting saya sudah ikut andil memilih calon yang benar. Itu prinsipnya.

(Penulis. dr. Chairil Anwar Soleh, SP, An/Bekerja di sebuah rumah sakit/ Aktif Bergiat di Betawi Kumpul).