TVRI Menjawab Tantangan Penyiaran

kolom

Yons Achmad

Seorang mahasiswi Uhamka Jakarta datang untuk wawancara skripsi. Dia meneliti eksistensi program siaran TVRI, berusaha memberikan rekomendasi kira-kira apa yang harus dilakukan TVRI agar tetap bisa “mencuri” perhatian penonton. Saya sedikit memberikan sumbang saran kira-kira apa yang semestinya dilakukan.

Bagi saya, secara umum, TVRI sebagai tv publik yang dimiliki pemerintah tak dibebankan mencari keuntungan lewat iklan dsb. Artinya biaya pegawai serta produksi program mengandalkan biaya yang diberikan pemerintah. Biasanya, permasalahan klasik kenapa TVRI tak maju-maju, alasannya biaya yang minim. Tapi sebenarnya, hal ini justru menjadi tantangan TVRI dalam menghadapi kompetisi penyiaran, termasuk bersaing dengan televisi swasta. Ketika diklaim hanya sedikit diberikan anggaran tapi mampu memberikan tayangan yang bermutu, saya kira justru apresiasi dan penghargaanlah yang nantinya akan bisa didapatkan.

Khusus untuk program di TVRI, saya kira perlu fokus kepada tiga hal:

Pertama. Fokus kepada kebudayaan lokal. Oleh stasium televisi swasta, kebudayaan lokal saya kira tak mendapatkan perhatian serius. Yang banyak ditayangkan justru kehidupan keseharian yang Jakarta sentris, baik dalam tayangan sinetron, reality show, infotainment maupun liputan pemberitaan. TVRI yang juga punya jejaring di daerah, tentunya perlu fokus kepada tayangan kebudayaan lokal ini. Mengapa? Karena langkah inilah sebagai wujud tanggungjawab dalam memperkuat identitas bangsa, keberagaman yang menjadi ciri khas masyarakat kita. Di sinilah TVRI punya peran yang vital.

Kedua.
Pencerahan lewat Talkshow. Ada perbedaan mendasar talkshow yang ditayangkan TVRI dibanding talkshow di stasiun televisi swasta. Di TVRI jalannya talkshow lebih tenang, jarang ada saling potong antar narasumber yang diundang. Sementara, di televisi swasta sebaliknya. Saling potong, saling serang, saling bentak itu biasa, bahkan sesama narasumber ada yang sampai menyiramkan minuman di depannya. Nah, karena tak diburu oleh selingan iklan, saya kira TVRI perlu mengoptimalkan acara talkshow ini. Sebuah talkshow yang benar-benar bisa memberikan pencerahan publik dan akhirnya pemirsa mendapatkan gambaran yang lengkap tentang isu dari tema yang diangkat. Bukan hanya sekadar ajang masing-masing narasumber kekeuh dengan pendapatnya masing-masing seperti yang kerap terjadi di stasiun televisi swasta kita. Di TVRI, dulu ada tayangan talkshow bagus. Misalnya Soegeng Sarjadi Forum yang ketika kita menontonnya, kita bisa mendapatkan pencerahan. Karena dikemas dengan obrolan yang tenang, juga menghadirkan narasumber-narasumber kompeten yang menguasai persoalan. Sayang, sang host sudah meninggal. Ke depan, saya kira TVRI perlu mengemas dan melanjutkan acara seperti SS Forum tersebut.

Ketiga. Berinovasi dalam tayangan anak. Tak henti-henti misalnya Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) maupun Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) memberikan masukan atau teguran terhadap tayangan yang ramah anak. Tapi lagi-lagi banyak tayangan yang tidak pro anak dan remaja. Justru yang terjadi sebaliknya. Banyak tayangan yang merampas hak-hak anak. Termasuk juga televisi kurang memberikan ruang bagi anak untuk berekspresi. Memang, misalnya ada tayangan kontes-kontes menyanyi anak. Tapi, saya kira acara konten-kontes semacam ini terlalu dini untuk menanamkan kepada anak agar bersaing dengan yang lain. Nah, TVRI saya kira harus punya terobosan. Saya melihat misalnya tayangan “Ayo Menyanyi” yang disiarkan TVRI sudah berkonsep bagus. Tidak ada kompetisi. Yang ada anak-anak dihadirkan dan mereka bernyanyi bersama, tertawa riang bersama. Saya kira acara-acara yang mengapresiasi anak ini perlu terus dikembangkan. Tak perlu ikut-ikutan menggelar ajang kompetisi. Cukup berikan ruang (program) bagi anak-anak mengembangkan hobi maupun talentanya. Peran ini saya kira menjadi andil besar TVRI untuk bisa mengembangkan bakat dan minat anak.

Inilah sedikit sumbang saran saya kepada TVRI untuk bisa menjawab tantangan penyiaran ke depan. Memang, hanya pandangan dan masukan sepintas saja. Tapi, setidaknya bisa menjadi pembuka dialog agar TVRI bisa berkembang dan lebih baik ke depannya. Semoga.

Penulis. Yons Achmad. Pengamat media. Founder KanetIndonesia.com. WA:082123147969.