KPI Sebagai Pemantau Media Online, Mungkinkah?

kolom

media online

Apa lembaga yang saat ini secara serius mengawasi dan memantau media online? Jawabannya tidak ada. Memang, saat ini kita punya Dewan Pers, salah satunya bertugas menetapkan dan mengawasi pelaksanaan Kode Etik Jurnalistik.

Masalahnya sekarang, banyak sekali situs atau media online yang tidak terdaftar di Dewan Pers. Artinya, banyak perusahaan media online “abal-abal” yang ditandai misalnya tidak jelas siapa pengelolanya, di mana kantor redaksinya, juga tidak ada badan hukum yang menaunginya.

Di kalangan akademisi, memang pernah ada satu inisiatif untuk melakukan pemantauan media online. Salah satunya lewat peluncuran situs Digi-Journalism.or.id, sebuah komunitas dan situs non-partisan yang menaruh konsern pada perkembangan jurnalisme online dan media digital di Indonesia.

Lembaga ini disponsori oleh Open Society, Inggris, untuk memetakan perkembangan mutakhir media digital di Indonesia dan difasilitasi oleh Yayasan Tifa Indonesia. Para aktivisnya berasal dari Fisipol UGM khususnya, Ilmu Komunikasi. Sayangnya, situs itu tak lagi update.

Terkait dengan pemantauan media online, ada kabar bagus dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) periode 2016-2019. Di Media (Liputan6.com/17/8/2016), Ketua KPI Yuliandre Darwis berniat tak hanya melakukan pemantauan dan pengawasan penyiaran televisi saja. KPI juga berencana mengawasi pemberitaan sejumlah media online. Apalagi, kini media online mulai menjamur. Oleh karena itu, KPI ingin merevisi undang-undang penyiaran yang saat ini lebih konsentrasi ke tayangan televisi saja.

Memang niatan KPI ini patut kita apresiasi dan perlu dukungan. Peluang KPI bisa melebarkan sayap pengawasan dan pemantauan, tak hanya televisi tapi juga media online itu mungkin. Tapi, saya kira, merevisi Undang-Undang bukan perkara mudah. Nah sekarang, untuk mengisi kekosongan peran sebelum revisi itu berhasil, apa boleh buat, partisipasi masyarakat perlu terus digaungkan.

Bagaimana publik terlibat secara aktif melakukan pemantuan terhadap media online. Terutama dalam soal bagaimana meluruskan pemberitaan yang seringkali salah, keliru serta informasinya menyesatkan. Beragam kritik kepada media online perlu terus kita lakukan demi menjaga akal sehat bermedia. (Yons Achmad/Pengamat media/Founder Kanetindonesia.com/WA:082123147969).