Andai Saya Jadi Fahri Hamzah

kolom

Fahri Hamzah

Saya sudah dipecat dari anggota PKS. Artinya, otomatis saya diberhentikan juga dari anggota dewan, dari pimpinan DPR.  Cepat atau lambat. Melawan? Tidak, saya tidak akan melawan atau menuntut apa-apa dari PKS. Barangkali, kehadiran saya memang sudah tidak berguna. Baiklah. Saya akan menerima keputusan pemecatan ini. Saya menghargai  keputusan presiden PKS. Saya tidak akan dendam atau sakit hati. Biarlah pemecatan ini menjadi kisah tersendiri bagi saya. Saya tidak akan meminta DPP merevisi keputusan pemecatan. Saya sudah ikhlas menerima keputusan itu.

Walaupun begitu, sebagai manusia saya sekarang  malah bisa sedikit tersenyum dengan keputusan yang “Bijaksana” ini. Saya ikut mendirikan PKS. Berkiprah di dalamnya. Sampai kemudian sebagai pendiri saya dipecat dari organisasi, partai yang saya ikut mendirikan. Sungguh, ini menjadi lelucon yang mungkin kelak akan saya bagikan ke anak cucu. Tapi, lagi-lagi biarlah ini menjadi cerita tersendiri. Kenangan yang tidak akan mungkin bisa saya lupakan.

Hanya saja, kalau boleh sedikit berpesan. Pada akhirnya, menjadi politisi itu harus  lemah lembut, tidak boleh bicara sembarangan. Juga, ini yang terpenting, Antum harus “Sopan”, lebih-lebih lagi terhadap kekuasaan.  Antum akan mengerti bagaimana arti “Kesopanan” itu setelah “sowan” kepada kekuasaan.  Datang ke istananya.  Tak peduli, seberapa garangnya dirimu , setelah keluar dari pintu istana, antum akan lebih paham apa itu arti “kesopanan”.

Terakhir, setelah dipecat, apa yang akan saya lakukan? Saya akan merenung sebentar, juga memohon ampun pada Allah Swt kalau ternyata saya memang sudah banyak  melakukan kesalahan. Meminta maat kepada teman-teman dekat dan juga kawan-kawan seperjuangan. Saya akan meyakinkan, walaupun saya sudah didepak dari komunitas dakwah ini, saya tidak akan berhenti berdakwah, menyuarakan kebenaran, terutama pada kekuasaan.

Begitu juga, saya tidak akan melepaskan komitmen Islam dan perjuangan yang sama-sama telah kita pahami bersama. Saya barangkali akan fokus menjadi pengusaha, menulis buku dan  lebih sering mengunjungi daerah. Barangkali ada kontribusi yang bisa saya kerjakan di sana.   Membangun pesantren misalnya.  Oh ya, ada pepatah mengatakan, pengkhianat biasanya dari orang dekat. Pepatah ini banyak dikutip orang, tapi saya yakin tidak ada pengkhianatan. Semuanya ini hanya kesalahpahaman. Demikian. (Yons Achmad/ Anggota Keluarga Alumni KAMMI)