Pendukung Ahok Mainkan Isu Rasisme Demi Keuntungan Politik

kolom

stop rasisme

Pendukung Ahok Mainkan Isu Rasisme Demi Keuntungan Politik
:Yons Achmad
(Pengamat Media | Founder Kanet Indonesia)

Kenapa orang membenci Ahok? Saya kira bukan karena sesuatu yang orang sering tuduhkan. Karena dia Cina, atau karena dia non muslim (kafir). Tapi, saya kira, orang membenci Ahok karena kata-katanya yang kasar serta perilaku dan kebijakannya yang tidak pro terhadap masyarakat (rakyat) kecil.

Tapi rupanya, permainan media, permainan opini seolah menjadikan Ahok seperti pahlawan (hero) dengan salah satunya mengatakan, dia tidak korup, bebas korupsi. Padahal, logika ini sangat mudah dipatahkan. Sebab, pejabat dikatakan tidak korupsi hanya ketika dia sudah selesai melakukan tugasnya. Itupun bukan jaminan juga, sebab banyak juga pejabat yang baru ketahuan dia korupsi setelah lengser. Jadi istilah “Biar Kafir Asal Tidak Korupsi” menjadi tampak begitu konyol kedengaranya.

Sekarang ini saya melihat, ada kecenderungan para pendukung Ahok justru mengkomodifikasi, menjadikan komoditas (barang jualan) isu rasisme. Salah satunya dengan komodifikasi istilah “Cina Kafir”. Istilah ini, kalaupun ada dan sempat diucapkan oleh seseorang, tak banyak jumlahnya. Orang sudah semakin dewasa untuk tak gampang mengeluarkan kata-kata ini. Tapi rupanya, istilah ini justru diulang terus menerus oleh Ahok dan para pendukungnya. Lengkap dengan menuduh balik orang dengan stigma “Rasis Lu”.

Padahal, apa sebenarnya rasisme? Pandangan umum menyatakan rasisme sebagai sesuatu yang meninggikan ras dan keturunan. Pertanyannya, ketika misalnya ada ucapapan “Cina Kafir”, apakah hendak ingin melecehkan ketutunan Cina (Tionghoa)? Saya kira tidak. Tetapi, orang berkata begitu barangkali karena semata-mata kesal terhadap ucapan kasar dan kebijakan Ahok. Buktinya, orang biasa saja misalnya dengan Hary Tanoe yang terang-terangan berpolitik yang artinya juga berambisi merebut kekuasaan. Kenapa? Karena tokoh ini dinilai lebih santun, tidak urakan dan berperilaku “Yang penting ngomong dulu baru mikir” seperti Ahok. Walaupun ya kita memang tak pernah tahu dibalik kiprah pemilik beberapa stasiun televisi ini.

Itu sebabnya, saya melihat sebaliknya. Kita tak perlu begitu takut dengan isu rasisme, karena paska 1998, jalinan kehidupan di negeri ini sudah begitu harmonis. Tak ada lagi, atau setidaknya tak muncul kasus-kasus besar yang berbau rasisme. Saya melihat, yang mengkhawatirkan justru orang-orang yang menunggangi atau memanfaatkan isu rasisme ini demi kepentingan politik dan kekuasaan. Dengan menjadikan misalnya Ahok sebagai korban rasisme dan korban diskriminalisasi. Sehingga muncul simpati dan dukungan terhadapnya. Ini yang sebenarnya harus diwaspadai.

Sudah saatnya, para pendukung Ahok berhenti memainkan isu rasisme ini demi kepentingan politik menuju DKI 1. Mereka harus sadar, orang tak suka Ahok, orang benci Ahok bukan karena dia Cina atau dia non muslim. Tapi sekali lagi, karena orang sudah muak dengan mulut kotornya, orang-orang khususnya kaum marginal sudah muak dengan kebijakan politiknya, dengan menggusur seenaknya, menghajar pedagang kaki lima seenaknya dll. Singkat cerita, prestasinya juga tak membanggakan. Buktinya, rapor akuntabilitas Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan RB) yang menilai beberapa provinsi di tanah air, Jakarta hanya menempati posisi 18 dengan predikat CC dan angka 58,57. Posisi Jeblok. Artinya selama ini Ahok kelihatannya memang hanya banyak bicara untuk pencitraan di publik tanpa ada kinerja yang nyata demi kemaslahatan publik. []

Palmerah, 2 April 2016.