Arah Jurnalistik Zakat

kolom

C

Arah Jurnalistik Zakat
Oleh: Yons Achmad
WA: 082123147969
(Konsultan Media | Founder KanetIndonesia.com)

“There is no higher law in journalism than to tell the truth and shame the devil”

“Tiada hukum tertinggi dalam jurnalistik selain mengatakan kebenaran dan mempermalukan para penjahat”

(Walter Lipman)

Istilah jurnalistik zakat mungkin diambil secara semena-mena saja. Tapi yang saya maksudkan di sini, bagaimana jurnalistik (media) berpihak pada isu-isu zakat. Artinya, punya minat dalam memberitakan seputar zakat. Baik kemanfaatannya, para aktivis (pegiat) zakatnya, maupun lembaga-lembaga zakat sebagai institusi resmi yang diakui pemerintah, dalam penghimpunan, pendistribusian, maupun pendayagunaan zakat. Sehingga, publik (umat Islam) semakin bergairah untuk pro aktif mengeluarkan zakat.

Kalau melihat sepintas tentang zakat, atau pemberitaan media, yang barangkali diingat orang tentang zakat biasanya cuma dua. “Ramadhan dan Kericuhan”. Ramadhan terkait dengan zakat fitrah, sementara “Ricuh” biasanya terjadi saat pendistribusian zakat (sedekah) kalangan tertentu. Saya kira, “citra” demikian tak boleh diabaikan (dibiarkan) begitu saja berkembang. Itu sebabnya, perlu menentukan arah jurnalistik zakat ke depan. Diantaranya;

Pertama. Membumikan teologi zakat. Dalam Islam zakat, merupakan kewajiban bahkan menjadi rukun Islam yang ke-3. Dalam Islam, dikenal konsep monoteisme (tauhid), mengesakan Allah. Sejatinya, pengertian demikian berimplikasi pada pengakuan kesetaraan umat manusia. Tetapi kesetaraan (kesejahteraan) tidak akan terjadi tanpa keadilan sosial, ekonomi dst. Maka, zakat, sedekah sesungguhnya berada dalam bingkai ini. Sebuah potensi besar ketika zakat bisa digunakan sebagai modal penguatan ekonomi umat. Menjadikan zakat sebagai harga produktif, bukan konsumtif. Sehingga kelak, misalnya tahun ini zakat dikeluarkan kepada orang tertentu, diharapkan tahun depan sudah tak menerimanya lagi karena mereka sudah berdaya. Ini hanya salah satu contoh “Content” saja bagaimana jurnalistik juga semestinya membawa “Conten-Content” demikian ini. Membumikan teologi zakat menjadi aksi praksis yang memberdayakan umat.

Kedua. Mengawal Isu Terbaru Seputar Zakat. Jurnalistik zakat, semestinya juga bisa mengawal isu-isu terbaru soal zakat. Bagaimana misalnya dinamika perdebatan Undang-Undang terbaru, peraturan terbaru, perkembangan zakat di tanah air maupun internasional. Sehingga, publik juga tahu, paham dan bisa mengikuti perkembangan isu tersebut.

Ketiga. Menyuarakan Gagasan Aktivis Zakat. Perubahan sosial, biasanya dimulai dengan gagasan-gagasan baru, unik, belum pernah ada sebelumnya. Untuk itu, agar zakat bisa menjadi sesuatu yang inovatif, produksi gagasan harus dilakukan terus menerus. Begitu juga terobosan pemikiran menjadi sesuatu yang penting. Itu sebabnya, jurnalistik zakat berkepentingan untuk menyuarakan gagasan aktivis zakat. Dalam peran lain, tak ketinggalan juga bisa berperan normatif seperti memberitakan agenda dan kegiatan terbaru lembaga-lembaga zakat yang ada. Atau menjadikan aktivis zakat sebagai narasumber, dengan demikian akan terjadi dialog terbaru bagi inovasi zakat ke depan. Hasilnya, usaha ini tentu saja otomatis mendorong kemajuan zakat itu sendiri.

Keempat. Membangun sinergi antar lembaga zakat. Bagaimana sinergi antar lembaga zakat, apakah sudah ideal? Bagaimana sinergi antar asosiasi lembaga/badan zakat? Apakah juga sudah saling berkolaborasi? Atau, malah menjadi rival yang saling “sikut” seperti dalam kasus misalnya antara Palang Merah Indonesia (PMI) dengan Bulan Sabit Merah Indonesia? Nah, jurnalistik zakat, sangat diperlukan untuk membangun sinergi antar pihak-pihak yang terkait langsung maupun tidak langsung pada pengembangan dan kemajuan zakat itu sendiri, bukan justru menjadi “kompor” bagi konflik-konflik kepentingan yang barangkali ada.

Kelima. Menyajikan kisah-kisah inspirasi seputar zakat. Saat ini, dalam trend komunikasi (media), dikenal konsep storytelling (bercerita). Lewat cerita, pesan, ide, akan lebih mudah diterima dan berpotensi menjadi “viral” di era digital dan sosial media sekarang ini. Dengan demikian, alih-alih meng-create “Content-Content” berat dan serius, alangkah baiknya menyajikan cerita sebagai ujung tombak memahamkan konsep zakat kepada publik. Dalam jurnalistik, langkah praktisnya dengan menyajikan berita-berita kisah (feature) yang berisikan kisah-kisah inspiratif seputar zakat. Baik kisah-kisah misalnya “keajaiban” para pezakat, juga barangkali kisah-kisah penerima zakat yang bisa keluar dari “jurang kemiskinan” karena sudah “disentuh” oleh zakat. Bisa juga berkisah tentang pengalaman-pengalaman menarik dan inspiratif dari pegiat (aktivis) yang berkecimpung dalam dunia zakat.

Demikian kira-kira bagaimana arah jurnalistik zakat ke depan kita teropong. Tentu saja, dalam strateginya, menjadi sangat lentur. Misalnya bagaimana mendorong jurnalistik zakat ini menjadi bagian penting dari media umum (mainstream). Juga, secara khusus jurnalistik zakat ini menjadi salah satu senjata bagi media intenal lembaga zakat demi tumbuhnya keberdayaan zakat itu sendiri. Sehingga bisa menopang, menguatkan dimensi pokok dari zakat seperti penghimpunan, pendistribusian dan pendayagunaan. Hasilnya, jurnalistik zakat, dengan fungsi publisitas yang menyertainya pada akhirnya menjadi kerja-kerja penting dan bagian tak terpisahkan dari zakat itu sendiri.

*Materi sebagai bahan diskusi dalam Workshop Jurnalistik Zakat (Memaksimalkan media untuk Keberdayaan Zakat) yang diselenggarakan oleh Forum Zakat (FOZ). Code Margonda, Depok, 23 Maret 2016.