Menjadi Penulislepas (5) Menulislah Selalu dengan Cinta

kolom

menjadi penulis lepas

Menjadi Penulislepas (5) Menulislah Selalu dengan Cinta

Rasanya memang benar juga ya. Saya kira, menulis itu memang seperti jatuh cinta, sekali pernah terjadi, pasti bisa mengalaminya kembali. Bahkan kita bisa jatuh cinta berkali-kali pada orang yang sama. Kenapa itu bisa terjadi? Biasanya sih karena dalam sebuah kesempatan, kita mendapati perasaan yang berbeda, merasakan kesan yang lain pada seseorang dengan peristiwa-peristiwa yang bahkan mungkin kecil saja.

Misalkan kita jatuh cinta (lagi) pada seseorang, yang dia itu begitu sayang terhadap anak-anak, atau begitu sayang pada binatang peliharaan tertentu. Sama kucing misalnya. Setiap kita menyaksikan dia begitu, ah muncul cinta, dan cinta lagi pada orang yang sama. Dan cinta itupun bertambah dan bertambah terus.

Bagaimana dengan soal menulis? Ya, saya kira kurang lebih juga begitu. Misalkan kita pernah menulis cerita atau kolom di Koran atau majalah, sekali pernah dimuat, kita akan terus berusaha untuk kembali mengulanginya lagi. Menuliskan cerita lagi, menulis kolom lagi, mengirimkannya lagi. Dimuat lagi. Ah betapa senangnya bukan? Apalagi selain mendapatkan sambutan dari pembaca, juga mendapatkan honor yang lumayan gede. Ahai.

Percayalah, jatuh cinta untuk menulis dan menulis lagi mesti kita syukuri. Kenapa?

Bayangkan mereka yang punya cita-cita untuk menjadi penulis tapi masih mentok dan bahkan sering ngadat untuk menulis. Hasilnya, tak ada karya yang dihasilkan atau hanya sedikit saja. Mungkin mereka sudah berusaha menulis tapi tetap saja jarang yang selesai.

Nah, itu sebabnya, bagi mereka yang sedang jatuh cinta dan merasakan jatuh cinta berkali-kali, maka teruslah nikmati itu, rasakan sensasinya. Karena saat-saat itulah barangkali saat paling “Menghasilkan”, fase emas seorang penulis dalam menghasilkan karya terbaik. Bisa jadi pula, dalam fase itulah karya terbesar dan laku dihasilkan. Tak jarang beragam kisah penulis yang sedang jatuh cinta, dia begitu produktif menghasilkan karya, puisi misalnya. Barangkali karya itu hanya untuk seseorang, tapi kalau memang bagus, tak menutup kemungkinan bisa dinikmati banyak orang ketika diterbitkan.

Jadi. nikmati sajalah fase itu. Teruslah mencoba jatuh cinta. Jatuh cinta pada gunung, dia akan menulis tentang perjalanan pendakian yang mendebarkan. Jatuh cinta pada senja, akan mengalir novel-novel yang menyentuh. Jatuh cinta pada sebuah kota, dia akan menceritakan pengalaman berkesan mengunjunginya. Jatuh cinta pada kehidupan, dia akan selalu menulis tentang kedamaian.

Begitulah kawan. Tetaplah jatuh cinta, sebab dengannya, karya terbaik sangat mungkin akan dapat kita hasilkan. Cinta adalah inspirasi, dekap erap ia sepenuh hati.