Jurnalisme Sebagai Kajian

kolom

Logo Wasathon com
Setelah mengamati dan sejenak merenungkannya, narasi tentang jurnalisme begitu luas. Tapi, secara sederhana, jurnalisme setidaknya punya dua dimensi. Praktik dan konseptual. Sebagai praktik, saya setuju dengan pendapat Ana Nadya Abrar, pengajar jurnalisme di Jurusan Ilmu Komunikasi UGM. Menurutnya, jurnalisme bukan sebuah ilmu seperti hukum dan kedokteran. Jurnalisme hanyalah sebuah teknik. Karena itu, untuk menguasai jurnalisme, orang tidak perlu masuk sekolah tinggi-tinggi, tetapi cukup kursus jurnalistik selama satu tahun. Sedangkan secara konseptual, mereka yang belajar jurnalisme sampai S2 maupun S3, pada dasarnya sedang menekuni fenomena jurnalisme, kemudian mencoba merefleksikannya.

Saya mengamati, sebagai praktik, dengan mempelajari teknik-teknik tertentu, orang sudah bisa masuk dan melamar ke industri media, dari latar belakang pendidikan apapun. Itu sebabnya, entah ini fenomena apa, banyak alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) yang kemudian bukan menggeluti bidang pertanian setelah lulus, malahan banyak yang menjadi wartawan, salah satu contohnya Uni Lubis, wartawan senior, mantan Pemred AN TV yang kini menekuni bisnis media online Rappler Indonesia. Singkat kata, jurnalisme sebagai praktik banyak dimasuki oleh alumni-alumni beragam jurusan dari berbagai kampus dan universitas yang ada.

Lalu, bagaimana jurnalisme secara konseptual? Saya kira ini memang ranahnya para sarjana komunikasi untuk terjun ke dalammnya. Walau, pada kenyataaanya, kampus-kampus Ilmu Komunikasi di tanah air seolah kehilangan orientasi. Alumni jurusan Ilmu Komunikasi disiapkan dengan cara pandang (mindset) kapitalistik. Sekadar menyiapkan para alumninya untuk bisa masuk ke industri-industri media komersial. Hasilnya kemudian, alumni-alumni jurusan Komunikasi sibuk bekerja di industri media, sedangkan posisi-posisi strategis kajiani jurnalisme seperti Dewan Pers, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), para pemantau dan pengamat media, justru banyak diduduki oleh mereka dengan latarbelakang pendidikan yang bukan dari sarjana, master atau doktor bidang komunikasi (jurnalisme). Tapi apa boleh buat, semua itu adalah pilihan.

Terlepas dari semua itu. Alih-alih aktif menekuni praktik jurnalisme dan bekerja di industri media, saya lebih memilih sebagai penekun kajian jurnalisme atau menekuni jurnalisme secara konseptual. Walau, saya juga punya media kecil-kecilan. Media online. Namun, hanya sekadar meramaikan khazanah praktik jurnalisme onlline di tanah air. Dalam ranah ini, ranah jurnalisme sebagai sebuah konsep (kajian), mengacau pada pemahaman di atas, setidaknya, banyak pekerjaan penting, serius dan sepertinya akan melelahkan kalau terus ditekuni.

Diantaranya, sebagai sebuah kajian, ketika kita mencoba untuk merefleksikan fenomena jurnalisme, khususnya di tanah air, merujuk pada Bang Abrar: seorang pengkaji, penekun, atau pengamat jurnalisme (media) akan bisa dan punya tugas: (1) Mengungkap rahasia berita (2) Memahami dunia wartawan (3) Menelusuri kondisi khalayak (4) Memantau perkembangan media.

Barangkali, di beberapa tempat juga banyak bermunculan para pengkaji, pemantau, penekun atau pengamat jurnalisme (media) ini. Saya sendiri, juga punya kencenderungan ke arah sana. Aktivitas, setahun terakhir, bergelut dalam ranah ini. Walau, secara khusus, saya menaruh perhatian pada fenomena jurnalisme yang sering disebut jurnalisme Islam, pers Islam, lebih khususnya lagi, jurnalisme online (Islam). Dan, saya kira, kelak, harapan sederhananya, bisa menemukan “ wajah”, narasi jurnalisme Islam atau pers Islam. Dan hasilnya bisa menjadi sedikit sumbangan intelektual untuk negeri tercinta Indonesia kita ini. Semoga []

*Yons Achmad. Pengamat media. CEO Kanet Indonesia.