Tragedi Paris Perspektif Media

kolom

Literasi Media

Tanah Suriah memberikan kepada Barat Nabi yang saleh, tulus dan suci. Sebagai balasnya Suriah mendapat dari Barat teroris, senjata, minuman keras dan pelacur

(Iqbal /Terjemahan Dr. Abdul Hadi W.M)

Aksi teroris di Paris kini telah menjadi tontonan global (global spectacle). Lewat media, kita tahu beragam cerita, foto dan video yang disebut sebagai tragedi kemanusiaan itu. Banyak ragam analisis mengenai tragedi tersebut. Tapi, pada kesempatan ini, saya mencoba membaca sedikit saja dalam perspektif kajian media.

Kolom ini berangkat dari teori yang didedahkan Yasraf Amir Piliang (2003) lewat sebuah artikel dalam bukunya yang berjudul “Politicus Horrobilis: Hantu-Hantu Terorisme”. Seperti dalam kajian media, kita sudah sama-sama mengetahui bahwa tujuan utama terorisme memang bukanlah kehancuran atau kematian itu sendiri, melainkan bagaimana kehancuran dan kematian tersebut menjadi sebuah panggung tontonan lewat media. Ketika efek ketakutan, kengerian dan trauma tersebut dirasakan telah meluas sehingga menjadi sebuah trauma global, maka pelaku dan aktor intelektual dibalik teror berharap akan mendapatkan keuntungan politik yang lebih besar dari peristiwa horor tersebut. Inilah politik dalam wujud mutakhirnya, yaitu politik teror atau politik horor yang menjual kematian dan ketakutan demi memperoleh laba politik-politicus horrobilis.

Terorisme dalam bentuknya yang mutakhir ini di dalam masyarakat informasi-dapat dilihat sebagai fenomena pertukaran simbol (symbolic exchange) atau perang simbol (symbolic war). Yang didalamnya ketakutan, kehancuran dan kematian dijadikan penanda (signifer). Penanda ini diharapkan memproduksi makna tertentu (signifed). Misalnya, ketika media menulis berdasarkan pengakuan Saksi yang melihat bahwa sebelum melakukan penembakan pelaku meneriakkan “Allahu Akbar”, hal ini sangat jelas kemana arahnya. Yaitu ingin menunjuk hidung bahwa pelakunya adalah seorang muslim. Dalam hal ini media Barat menuliskan dengan serampangan, sementara media di Indonesia mengutip begitu saja tanpa ada upaya kritis mempertanyakannya.

Terorisme kemudian menemukan bentuk sebagai semiotisasi teror (semiotication of terror) yaitu menjadikan peristiwa teror sebagai tanda dan tontonan lewat berbagai media dalam rangka menciptakan citra, makna atau label-label tertentu tentang sebuah kelompok masyarakat atau negara tertentu yang berkaitan dengan aksi teror tersebut. Dalam hal ini yang menjadi kambing hitam tak lain tak bukan ISIS. Tanpa bukti memadahi dan hanya berdasar klaim yang entah benar atau tidak ISIS bertanggung Jawab atas penyerangan ini, maka, label kelompok radikal (teroris) disematkan. Padahal dalam kasus ini teramat banyak kejanggalan. Tapi, media-media tak pernah memberi ruang bagi analisis “konspiratif” semacam ini.

Selanjutnya, akan ada sebuah mekanisme yang disebut sebagai oposisi biner (binary opposition). Tujuannya untuk menciptakan kategori siapa yang teroris dan siapa yang bukan teroris. Hasilnya akan muncul sebuah perkataan demikian “Oleh karena yang teroris adalah ISIS maka kami jelas bukan teroris”. Lagi-lagi, kesimpulan gegabah ini akan terus menerus digemborkan. Salah satunya melalui distorsi informasi tentang pemberitaan seputar terorisme. Sampai publik dipaksa menerima kategori psikologis semacam ini. Padahal kita tahu bagaimana misalnya peran Prancis juga ikut andil dalam pembantaian di negeri-negeri berpenduduk muslim.

Membaca kasus tragedi Paris dalam konteks kajian media, jelas sudah bagaimana modus “Lagu Lama” kembali dimainkan. Saya sendiri sepakat bahwa ini tragedi kemanusiaan. Tapi, kita mesti tetap kritis agar tak selalu dibodohi oleh media-media Barat, begitu juga media-media di Indonesia yang hanya bisa mengutip begitu saja konten media Barat.

Agama memang mengajarkan cinta kasih, tapi ketika ada kelompok atau negara tertentu yang ditindas, maka perlawanan seringkali diambil sebagai jawaban. Dan saya kira, terorisme baik dilakukan kelompok kristen, kelompok Islam atau kelompok agama lain akan terus ada ketika ketidakadilan global masih dirasakan. Untuk melawan terorisme saya sepakat bukan dengan deradikalisasi ala Badan Nasional Pemberantasan Terorisme (BNPT), tapi dengan terus mengkampanyekan pemikiran dan laku moderat, seperti pernah dilontarkan Haidar Nashir, Ketua Umum Muhammadiyah. (Yons Achmad/Pengamat media. CEO Kanetindonesia.com. WA: 082123147969).