Gerilya Jonru Melawan Situs Islam Toleran

kolom

Islam Toleran Situs Sampah
Kenapa Jonru melawan Situs Islam Toleran? Barangkali jawabannya, karena situs ini pendukung setia Jokowi, Ahok dan kontra terhadap kelompok Islam seperti PKS, HTI, FPI dll. Sangat garang dengan kelompok Islam yang dinilai berseberangan, tapi begitu lemah lembut terhadap non muslim semisal Ahok yang telah banyak menebarkan kedholiman. Itu sebabnya (barangkali) dia terus bergerilya (walaupun) sendirian melakukan perlawanan.

Saya mengenal Jonru sebagai orang yang bergerak atas dasar apa yang diyakininya sebagai suatu kebenaran. Dan dia akan terus melakukan itu. Tak peduli orang suka atau tidak suka. Yang pada akhirnya, kita bisa menyaksikan performanya sekarang, sebuah wajah yang sebenarnya sangat jauh berbeda dari beberapa tahun sebelumnya.

Saya sendiri awalnya mengenal Jonru sebagai orang yang aktif di dunia kepenulisan. Mendirikan bisnis Sekolah Menulis Online (SMO), dimana banyak orang telah dimentorinya agar bisa menulis dan menerbitkan buku. Lalu dikembangkannya menjadi bisnis penerbitan buku mandiri (self publishing) bernama Dapur Buku. Pada saat dia dikenal sebagai sosok yang inspiratif sekaligus motivator kepenulisan. Tapi semuanya itu berubah ketika isu pilpres 2014 berlangsung.

Dia memosisikan diri sebagai pendukung Prabowo dan begitu kontra terhadap Jokowi. Itulah aktivitas politik yang kemudian dilakoninya. Bukan gerakan di dunia nyata mengorganisir masa secara langsung, tapi dia memilih bergerak fokus di dunia maya. Nah, layaknya dunia politik yang “kejam” mulailah dia mendapat banyak musuh. Sampai sekarang. Musuhnya adalah para pendukung Jokowi-Ahok, orang-orang liberal, orang-orang Syiah, begitu juga media-media yang pro terhadapnya. Salah satunya adalah situs Islam toleran. Situs yang antara nama dan pemberitaan (opininya) tidak sejalan.

Postingan-postingan Jonru banyak membuat gerah berbagai kalangan. Dia memang sosok yang begitu produktif. Dengan kemampuan menulis cepat, bisa menggunakan sepuluh jari dia terus memroduksi beragam wacana. Kalau dia diserang, dia tak bakal diam, akan melakukan serangan balik. Ketika ada yang membuat petisi ingin memenjarakannya dan dimuat di situs Islam Toleran, dia buat gerakan balik mendukung petisi online (yang dibuat orang lain) agar Kemkominfo memblokir situs itu. Begitulah Jonru sekarang, berbeda dari sebelumnya.

Lantas, bagaimana membaca kiprah Jonru ini?

Sebagai pribadi dan sedikit mengamati dunia media saya berpandangan begini. Saya sendiri sangat takjub pada orang yang bergerak atas dasar sesuatu yang diyakininya sebagai sebuah kebenaran. Jonru melakukan itu. Begitu juga yang dilakukan orang-orang misalnya Ade Armando lewat media Madina Online. Bedanya Ade Armando genit dengan memopulerkan beragam pandangan Islam yang dinilainya maju, sayangnya mengarah pada tendensi liberalisme. Tapi keduanya sama, sama-sama bergerak atas dasar sesuatu yang diyakininya sebagai sebuah kebenaran. Keduanya sama-sama mendapatkan banyak musuh.

Saya menilai apa yang dilakukan Jonru ini sebuah keniscayaan dalam keterbukaan informasi sekarang ini. Yang perlu terus dilakukan barangkali kritik terhadapnya. Begitu juga apa yang dilakukan Ade Armando itu. Saya membaca ada beberapa kalangan yang mencoba menakut-nakuti publik dengan bahaya seorang Jonru dan berusaha memberangusnya. Saya kira ini ketakukan yang berlebihan. Saya kira banyak orang yang juga tak sepakat beragam kebijakan Jokowi, Ahok, tak sepakat dengan ide Islam Nusantara, ide liberalisme JIL dsb. Dan yang membuat Jonru punya pamor karena dia mahir dalam memainkan isu dan paham bagaimana memperoleh banyak dukungan (Follower) misalnya di Twitter atau “Like” di Fans Page Facebooknya. Ilmu yang sekian lama dipelajarinya sejak berkiprah di dunia maya.

Saya sendiri berpendapat, saya kira perlu untuk terus melawan konten-konten di situs Islam Toleran. Karena saya menilai banyak konten yang problematis, tendensius dan cenderung provokatif menyerang berbagai kelompok Islam yang dinilainya berseberangan dengan pengelolanya. Walau, sayangnya para pengelola media itu begitu pengecut tak mau menampakkan “batang hidungnya”. Di dunia media, kita paham betul prinsip paling dasar. Kalau media (online) tidak jelas pengelolanya, maka kita WAJIB tidak percaya.

Hanya saja, kalau boleh mewanti-wanti, saat ini banyak orang yang sedang mencari celah untuk “Membungkam” Jonru. Kita perlu mengingatkan tokoh kita yang satu ini agar waspada. Singkatnya, saya mengapresiasi siapapun yang bergerak atas dasar kebenaran yang diyakininya. Tapi, disisi lain saya menolak hoax, fitnah, kabar burung, gosip, kabar bohong dari siapapun yang melakukannya. Demikian. (Yons Achmad/Pemerhati media/ CEO Kanet Indonesia).