Komunikasi Politik Megalomania Megawati Itu Problematis

kolom

jokowi

Apa itu megalomania? Dalam Wikipedia disebutkan, Megalomania berasal dari bahasa Yunani, Megalo, yang artinya sangat besar, hebat, atau berlebih-lebihan. Secara gamblang, megalomania bisa kita artikan sebagai bentuk obsesi berlebihan terhadap dirinya sendiri karena merasa dirinya paling hebat, paling berkuasa, dan paling besar.

Dalam ilmu psikologi, megalomania termasuk salah satu bentuk gangguan kepribadian manusia. Banyak juga yang beranggapan bahwa seorang pemimpin bisa dikategorikan sebagai penderita megalomania, mengingat banyaknya tokoh terkenal dunia yang dicurigai mengidap megalomania. Karena ciri negatif dari seorang pemimpin adalah keinginan kuat untuk tampil sebagai orang terhormat, dihargai, dan ditaati.

Nah, bagaimana dengan Megawati? Apakah tokoh ini juga Megalomania?

Kita lihat. Sigmund Freud, bapak psikologi, berpendapat bahwa akar dari megalomania adalah narsisme atau perasaaan mencintai diri sendiri secara berlebihan dalam diri manusia. Penderitanya memiliki suatu kecenderungan untuk menilai dirinya secara berlebihan atau menghargai diri melampaui batas.

Ciri-ciri Megalomania

1. Tidak mau menerima kritik

Apapun pendapat orang Megalomania harus didengar. Orang Megalomania tak mau mendengarkan pendapat orang lain. Dia selalu menganggap dirinya dan perkataannya yang paling benar. Keputusannya paling tepat, dan tindakannya pasti hebat. Merasa paling benar sejagat raya kalau sudah berargumentasi. Jika dia dikritik biasanya malah menyalahkan orang yang mengkeritik. Menurutnya, argumen dialah yang paling benar. Bagaimanapun kritikan orang terhadapnya, dia akan tetap berdalih karena merasa dirinyalah yang harus didengarkan bukan orang lain.

2. Selalu ingin dihargai

Sebagai orang yang mengaku paling hebat dan tak mau dikritik, pengidap Megalomania ingin orang sekitar menghargai kerja kerasnya. Sekalipun yang dilakukan ialah sesuatu yang dapat merugikan banyak orang. Dia tetep ingin dianggap benar oleh semua orang dan tetap dihargai. Harga dirinya sangat tinggi.

3. Selalu ingin jadi ketua

Karena ingin dihargai dan merasa diri paling benar, maka penderita Megalomania akan berpendapat posisi yang paling pantas untuknya adalah posisi teratas atau sebagai ketua. Dalam pikirannya, dia sudah merasa yang paling sempurna dan paling benar. Dia menganggap dirinya lah yang pantas untuk memimpin bukan orang lain.

4. Senang mencari pendukung

Penderita Megalomania memang memiliki kemampuan sebagai pemimpin, maka itulah dia akan sangat puas jika memiliki pengikut. Dan salah satu kelebihan lainnya ialah mudah untuk mempengaruhi orang lain untuk menyetujui perkataannya. Dia sangat senang dan tambah besar kepala jika ada yang mendukung dirinya. Dia sangat senang bila ada yang meneriakkan dirinya yang paling hebat. Si Megalomania mudah membuat orang takluk untuk menjadi pendukungnya.

5. Baginya, orang lain tidak punya kemampuan

Orang Megalomania suka merendahkan orang lain baik secara langsung maupun tak langsung. Bagi dia, orang lain tidak memiliki kemampuan sehebat dirinya. Dalam pekerjaan dia sering meremehkan hasil kerjaan orang lain dibanding dirinya. Seorang Megalomania merasa dirinya yang mampu menyelesaikan semua biar dia mendapat sanjungan dan pujian dari banyak orang.

Beberapa pandangan di atas saya kumpulkan dari berbagai sumber. Saya ingin melihat apakah Megawati juga seorang Megalomania? Tentu kita mesti berhat-hati dalam menilainya. Tapi kalau sepintas saya menilai pidatonya saat kongres terbaru PDIP di Bali, sepertinya ciri-ciri megalomania Megawati itu melekat. Bahkan seorang presiden seperti Jokowipun “Tidak dianggap”. Dan ini adalah problem serius. Problem kepribadian seorang pemimpin. Komunikasi politik Megalomania ala Megawati ini tentu tak patut sebagai contoh, apalagi sekaliber pemimpin nasional.

Lantas, dalam politik praktis, tentang kecenderungannya duduk sebagai ketua juga problematis. Barangkali Megawati memang sosok pemersatu PDIP, tapi dengan duduknya sebagai ketua dalam beberapa periode kepengurusan menjadikan PDIP tak punya pengalaman pemilihan dan regenerasi untuk memilih sosok yang tepat dengan banyak calon. Kelak, ketika Megawati lengser, berpotensi menjadikan keributan dalam pemilihan pemimpin (ketua partai).

Sebab selama ini kader-kader PDIP telah “memitoskan” Megawati yang (mungkin) memang akan dinobatkan sebagai Ketua Umum PDIP seumur hidup. Tapi ini hanya pembacaan sepitas saya. Kalau kelak setelah Megawati lengser, pemilihan ketua baru PDIP berjalan lancar saja, maka pembacaan saya keliru. Tapi kalau yang terjadi adalah keributan hebat, saling sikut, saling sikat antar calon, maka bacaan ini ada benarnya, sebab pengalaman politik PDIP memang memilih calon tunggal dan belum punya pengalaman berkompetisi lewat berbagai kandidat calon terbaik. Benar tidaknya bacaan ini, kita lihat saja beberapa tahun mendatang. (Yons Achmad/ CEO Kanet Indonesia).