Bisnis Konten dan Animasi Akan Booming Dua Tahun Lagi, Anda Siap?

kolom

keluarga somat

.

“Manusia yang memiliki Ide akan lebih kuat
dibandingkan orang-orang yang bekerja
dengan mesin produksi atau
bahkan pemilik mesin itu sendiri”

(John Howkins dalam The Creative Economy)

Senja ini, saat saya lagi pijat refleksi, iseng download majalah gratis via Wayang. Saya tertarik majalah “Youth Marketeer” yang lagi bahas industri kreatif di tanah air itu. Saya mendapatkan informasi menarik dari Wahyu Aditya, animator yang juga pendiri sekolah animasi Hellomotion di Tebet. Katanya, peluang industry kreatif sangat besar. Dia memprediksi dua atau tiga tahun lagi konten kreatif dan animasi Indonesia akan menjadi industri. Benarkah demikian?

Saya tertarik terus membacanya karena saat ini, lewat kanet Indonesia, kami juga sedang fokus menggarap beragam bisnis konten kreatif. Juga, untuk animasi sendiri sedang menggarap project animasi sederhana, sekitar 5 menit untuk kampanye digital dan sebuah jingle (lagu) untuk sebuah kementrian.

Untuk konten kreatif, kami memang sudah agak lama bergerak, sedangkan untuk animasi, kami masih pendatang baru. Membaca informasi itu, tentu saja membangkitkan semangat pribadi saya dan tentu saja nanti akan saya tularkan kepada semua tim untuk terus berkreasi dan berinovasi dalam menggarap project-project bisnis kreatif dan animasi.

Nah, menurut Wahyu, bicara industri animasi, saat ini masih ada di ranah jasa. Artinya masih seperti tukang jahit yang menerima order dari klien. Contohnya, menerima order dari klien untuk dibuatkan animasi dalam bentuk iklan atau company profile.

Aha. Sepertinya ini menjadi masukan menarik. Selama ini banyak bisnis yang dijalankan oleh anak-anak muda, masih sebatas menerima order saja dari klien. Saya kira, yang demikian memang tak “berdosa”. Hanya saja, sepertinya mindset para pekerja/pebisnis kreatif memang harus diubah. Dari yang hanya semata-mata “mengabdi” pada klien, menuju project-project “Pribadi/Perusahaan” berupa karya-karya kreatif. Memang sih, kendala utama di modal.

Tapi saya kira, asalkan kita punya ide kreatif, modal bisa dicari belakangan. Saya sendiri beberapa bulan terakhir ini sering menonton misalnya animasi anak-anak “Keluarga Somat” atau “Adit dan Sopo Jarwo”. Mungkin, itu salah satu yang dinamakan “Industri Animasi”. Tapi, karena pemahaman saya tentang animasi hanya sedikit saja, sepertinya isu ini perlu kita perbincangkan lagi.

Yang pasti sekarang, bagi pekerja kreatif, khususnya bisnis konten, tak ada pilihan untuk tetap bertahan di ranah iundustri bisnis kreatif ini. Dua atau tiga tahun lagi barangkali kita bisa menjadi pelaku bisnis konten kreatif yang banyak diminati karya-karyanya. Semua memang harus dipersiapkan dengan matang, kalau tidak lagi-lagi kita hanya menjadi penonton dan konsumen saja. So, selamat berkarya man teman. (Yons Achmad/ CEO Kanet Indonesia).