5 Cara Elegan Melawan Rezim Pemblokir Situs Islam

kolom

Situs Islam diblokir
Saya mendengar Radio Elshinta, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) merekomendasikan Kemkoinfo memblokir situs yang dinilai radikal karena aduan masyarakat. BNPT mengaku masyarakat yang dimaksud adalah sebuah lembaga. Nah, ini pernyataan menarik. Siapa sebenarnya lembaga yang memberikan laporan dan aduan ke BNPT itu?

Terkait dengan pemblokiran sekitar 19 situs Islam, ada beberapa hal yang sepertinya perlu dilakukan. Cara-cara tersebut tentunya bukan didasarkan pada emosi sesaat saja. Tapi lebih didasarkan pada kelangsungan hidup situs-situs Islam agar ke depan tetap bisa dinikmati pembaca. Beberapa cara itu antara lain:

Pertama. Dialog dengan Kemkominfo dan BNPT. Dialog ini sebagai langkah awal membuka debat kembali apa yang dimaksud dengan situs radikal? Kenapa ke 19 media Islam itu dinilai radikal dan dinilai membahayakan NKRI? Dialog ini penting untuk sama-sama menyamakan persepsi, menyamakan pandangan tentang bagaimana kehidupan keberIslaman yang ramah, toleran, damai sama-sama bisa diwujudkan.

Kedua. Kampanye Pentingnya Situs Islam. Kampanye ini terkait dengan edukasi bahwa situs-situs Islam itu tetap penting sebagai media alternatif. Ya, melihat performa media kita, tak terkecuali media cetak, lebih-lebih televisi begitu kental nuansa bisnis dan konten-konten yang sekuler. Tentu saja, media-media semacam ini tidak bisa dijadikan rujukan. Hadirnya media-media Islam yang bisa diakses publik lewat internet, dengan konten—konten KeIslaman, tentu menjadi bagian penting untuk menambah wawasan KeIslaman sekaligus bisa membuka ruang semakin banyak lagi amal-amal Islam keseharian yang bisa dilakukan. Hasilnya, semakin banyak orang/umat Islam berkontribusi pada umat dan negeri ini.

Ketiga. Pembentukan Asosiasi Situs Islam. Pemblokiran situs-situs Islam yang dinilai radikal ini menjadi momentum pengelola media untuk bersatu. Memang, masing-masing media punya coraknya sendiri, masing-masing media punya segmen pembacanya sendiri. Para pengelola media Islam harus melepas ego masing-masing untuk kepentingan yang lebih besar. Adanya asosiasi atau semacam perkumpulan situs Islam (media Islam) adalah sebuah langkah konkrit agar penguasa tidak semena-mena memblokir situs yang menjadi anggota asosiasi/perkumpulan. Adanya asosiasi/perkumpulan ini sekaligus juga bisa menjadi ajang kritik internal dan evaluasi kinerja jurnalisme yang dibangun masing-masing anggota.

Keempat. Pencerahan Publik Warna Islam. Pihak penguasa/pemerintah perlu dicerahkan. Bahwa umat Islam di negeri ini tak hanya umat Muhammadiyah atau Nahdatul Ulama saja. Banyak kelompok atau komunitas muslim dengan beragam corak. Ada yang barangkali dinilai radikal (keras), moderat atau liberal. Hanya memberangus kelompok (media) yang dinilai radikal tentu bukan jalan yang bijak. Justru situs-situs liberal yang menyesatkan umat dengan pandangan-pandangan Islam yang ngawur itulah yang juga tak lepas dari kritik dan evaluasi pemerintah. Persoalannya, memang pemerintah Era Jokowi sekarang begitu sekuler, maka wajar yang diberangus kelompok-kelompok Islam yang dinilai radikal itu. Yang semua orang tahu, kelompok (media) inilah yang selama ini kritis terhadap penguasa.

Kelima. Memperbaiki Performa Media. Terlepas dari semua itu, kritik internal juga perlu. Tujuannya tentu membangun kepercayaan publik (pembaca). Yang utama, dalam situs Islam atau media yang dibangun harus jelas dan tegas latarbelakang media dan nama-nama redaksinya. Domisili kantor media bersangkutan juga perlu dicantumkan. Hal ini adalah langkah awal membangun kepercayaan publik. Selanjutnya tentu saja kinerja jurnalisme yang dibangun. Menyiarkan pemberitaan atau informasi sesuai dengan kaidah-kaidah jurnalistik yang disepakati bersama. Dalam soal jurnalistik ini memang tak sesederhana dalam bayangan. Tapi saat ini adalah eranya masyarakat interaktif. Pengelola media, pekerja media dan pembaca saling bisa berinteraksi lewat beragam saluran. Yang memungkinkan ada umpan balik demi kebaikan media-media Islam. Hal ini tentu tak bisa dilakukan ketika media itu sendiri menyembunyikan identitas pengelolanya.

Begitulah kira-kira sedikit sumbangan pemikiran tentang bagaimana cerdas melawan rezim otoriter, rezim “orderan” yang semena-mena terhadap media Islam ini. Satu hati, satu perlawanan melawan rezim pemblokiran. (Yons Achmad/ CEO Kanet Indonesia).