Begini Kira-kira Bahaya Intelijen Media Jokowi

kolom

pencitraan Jokowi

Intelijen media. Makhluk apalagi ini? Diawal tahun 2015. Tepatnya tanggal 7 Januari, dalam sidang kabinet, Jokowi mengaku telah mengalisis sekitar 343 media. Analisis itu terkait dengan bagaimana media menilai kinerja pemerintah dan itu sudah dilakukan oleh tim intelijen media. Dalam kesempatan itu pula, Jokowi juga meminta kepada para menterinya untuk sadar media. Pemberitaan tentang intelijen media ini senyap. Tak banyak forum-forum (ilmiah) yang membicarakannya. Walaupun saya sendiri kurang begitu percaya tuh tim intelijen media itu mampu melakukan analisis media sebanyak itu.

Memang sih, katanya Joko Widodo bahkan telah diberikan gadget yang khusus dengan aplikasi intelijen media monitoring. Aplikasi yang terkoneksi langsung ke perangkat telekomunikasi, dapat mengetahui kejadian yang ditampilkan di seluruh jejaring sosial maupun portal berita media online. Tapi, tetap saja, saya kira, yang namanya alat selalu penuh dengan keterbatasan dalam pembacaan.

Diawal Maret 2015, Sekretaris Kabinet, Andi Widjajanto berbicara kepada publik tentang evaluasi kinerja para menteri. Andi mengungkapkan salah satu penilaian yang dilakukan adalah bagaimana kinerja dan performa para menteri itu dalam liputan media. Dan lagi-lagi dikatakan bahwa penilaian ini dilakukan oleh tim intelijen media. Nah, saya kira, para akademisi, praktisi komunikasi juga para peminat kajian media, rasa-rasanya perlu mendiskusikan tema ini lebih lanjut. Ya, karena tema ini saya kira memang menarik dan sudah sepatutnya mendapatkan perhatian.

Istilah intelijen media sendiri bagi saya agak absurd (tak jelas). Yang umum dikenal tentu monitoring media (pemantauan media). Terlepas dari tujuan dibentuknya tim media ini, kalau fungsinya adalah lebih kepada mengawasi media tentu saja hal ini tentu harus mendapatkan perlawanan? Apa sebabnya? Hal ini karena berpotensi pemerintah atau para menteri itu “Membeli media” agar yang nampak adalah wajah kinerja pemerintahan atau para menterinya yang baik dimata publik, padahal kenyataannya tak sesuai dengan realitas yang ada.

Bagi saya, seharusnya pemerintah menggunakan media untuk melihat bagaimana kondisi masyarakat yang sebenarnya. Tentang beragam kemiskinan dan kisah sedih yang masih banyak dialami masyarakat, tentang bagaimana pendidikan di negeri ini masih menyedihkan. Tapi, kalau media ternyata sudah membabi buta membela pemerintah, tentu saja yang ada hanyalah cerita-cerita sukses pemerintah, kabar-kabar baik dari kegiatan kementrian saja. Dan ini menyebalkan.

Seperti ajakan Jokowi untuk sadar media itu. Juga seperti kata Seskab yang mengatakan bahwa salah satu penilain yang dilakukan oleh pemerintah mengevaluasi kinerja para menterinya adalah lewat bagaimana dia dimata media. Konsekuensinya, hal semacam ini mendorong para menteri berlomba-lomba melakukan pencitraan di media seperti “Tuan Besar” nya.

Hasilnya apa? Ya mirip kisah orde baru tentang bagaimana Soeharto begitu sempurna di mata media. Fenomena sekarang ini sangat mirip. Lihatlah bagaimana performa Jokowi di media-media semacam Metro TV, Detik, Berita satu bahkan Tempo sekalipun yang kerap kritis terhadap media, sosok yang di “Nabi” kan ini begitu sempurna. Tanpa cela.

Kalau melihat potensi fungsi intelijen media yang berfefek pada pencitraan media, terutama yang dilakukan menteri-menteri dalam pemerintahan, juga oleh Jokowi sendiri, ya tim ini, saya kira tak terlalu berguna. Kecuali kalau fungsi intelijen media ini benar-benar bekerja mengumpulkan informasi nasib rakyat yang kurang mendapatkan perhatian pemerintah, lantas berkat pemberitaan media fenomena itu dapat diketahui, kemudian pemerintah cepat tanggap dengan laporan intelijen media ini, kemudian cepat mengambil kebijakan yang memihak mereka, ini baru kinerja intelijen media yang berguna. Tapi, kalau yang ada kemudian malah hanya mengawasi media yang kontra penguasa, lalu “membeli media” itu agar pro penguasa, maka intelijen media itu sudah sepatasnya memang harus dilawan. Atau Anda punya pendapat lain? Silakan. (Yons Achmad/Pemerhati Media/ CEO kanet Indonesia).

Foto: Ilustrasi meme yang banyak ditemukan di internet