Buku Retorika (Metode Komunikasi Publik): Referensi Menarik Siapapun yang Ingin Meyakinkan Orang

kolom

Retorika Metode komunikasi publik
Hakikat komunikasi adalah kesepahaman bersama (Mutual Understanding). Pertanyaannya, bagaimana kita bisa saling memahami, bagaimana kita juga meyakinkan orang dengan konsep atau pandangan yang kita yakini kebenarannya? Dalam kajian Ilmu Komunikasi, hal ini bisa didekati dengan kajian retorika.

Memang, dalam kajiannya yang klasik, kata retorika berasal dari bahasa Yunani yaitu rhetorikos, artinya kecakapan berpidato. Kata tersebut terkait dengan rhetor yang berarti pembicara publik dan terkait dengan kata rhema yang berarti perkataan. Sehingga, secara etimologis, retorika bisa dikatakan sebagai kecakapan berpidato pembicara publik yang terbiasa berkata-kata. Perkembangannya kemudian, ilmu retorika itu bisa digunakan orang dalam percakapan lisan juga bisa digunakan dalam percakapan tulisan.

Nah, bagaimana metode retorika itu bisa menarik siapapun yang ingin meyakinkan orang? Referensi tentang hal ini setidaknya dibahas tuntas lewat buku yang berjudul “Retorika: Metode Komunikasi Publik” Karangan Zainul Maarif. Dosen muda di Universitas Paramadina. Sebuah buku yang diterbikan secara mandiri (self publishing) melalui penerbit Dapur Buku, Jakarta.

Pada kesempatan kali ini, saya coba membocorkan sedikit rahasia buku bagaimana dengan ilmu dan metode retorika ini kita bisa meyakinkan orang dengan pandangan, konsep, pemikiran yang kita yakini kebenarannya.

Sebelum melangkah pada metode, agar kita bisa meyakinkan orang, satu modal awalnya adalah ethos (kepribadian pembicara/penulis) yaitu mereka yang mempunyai kredibilitas personal. Dia yang dapat menginternalisasikan pengetahuannya itu pada dirinya sehingga masyarakat dapat menerimanya dengan baik. Dalam bahasa yang populer mereka juga sepertinya perlu mempunyai otoritas ilmiah.  Tanpa itu rasanya memang sulit meyakinkan orang.

Nah, bocoran dari buku itu, agar kita bisa meyakinkan orang cobalah tiga konsep/metode ini:

Pertama. Berorientasi Pada Liyan (yang lain/pembaca) seorang orator/penulis yang baik dia berorientasi kepada pendengar/pembaca, tidak melulu fokus membicarakan dirinya sendiri, tapi bagaimana dia bisa berbicara dari hati ke hati yang membuka dialog dengan orang lain.

Kedua. Diligentia, yaitu komitmen yang ditujukan di hadapan para audien. Komitmen itu tentu terkait dengan kejujuran dan laku sesuai dengan apa yang dijanjikan (dikatakan). Rupanya kosep diligentia itu kerap sekali digunakan para politisi/pejabat pemerintah dengan janji “politik akan”  atau “Segera”. Yang seperti sering kita lihat dalam berbagai pemberitaan. Tapi apa hasilnya? dengan nada nyinyir kita bisa katakan bahwa “akan” itu kadang  artinya “entah kapan”, “segera” itu artinya  kadang “Tak jelas waktunya”. Nah untuk bisa meyakinkan, komitmen antara ucapan dan tindakan inilah yang bisa meyakinkan orang. Apa yang kita omongkan, apa yang kita tuliskan, kita juga melakukan.

Ketiga. Prudentia. Kemampuan menyelaraskan perkataan pada situasi. Sesuai dengan pepatah arab “Likulli maqomin maqalun wa likulli maqalin maqamun” yang artinya setiap tempat ada perkataannya dan setiap perkataan ada tempatnya. Salah-salah bisa berakibat fatal. Contoh terbaru gaya komunikasi Ahok saat mediasi dengan anggota DPRD di dalam gedung. Yang dengan suara keras, membentak-bentak sambil menunjuk-nunjuk orang, tentu hal ini tak cocok. Mungkin hasilnya akan berbeda misalnya saat dia lagi orasi di jalanan/lapangan.

Sebenarnya masih teramat banyak ilmu yang bisa kita dapatkan dari buku ini, termasuk bagaimana kita bisa membangun argumen yang begitu meyakinkan dengan trik-trik ala retorika. Tapi, untuk sementara ini dulu ya. Silakan baca tuntas bukunya, itu akan memberikan pengalaman dan pemahaman berbeda ketimbang sekedar menyimak sedikit bocoran di atas. (Yons Achmad/Publisis)

NB: Oh ya, bagi yang ingin mendapatkan buku menarik itu, bisa hubungi penerbit Dapur Buku atau WA: 082123147969