Begini Cara Media Online Tempo Serang Sultan Jogja

kolom

Sultan Jogja

“Sultan Yogya: Enggak Usah Ikut-ikutan Kuliah Kalau Tak Mampu” Itu judul berita yang diterbitkan Tempo Online 6 Maret 2015. Apa yang terpikirkan oleh pembaca? Tentu, yang muncul barangkali emosi pembaca bahkan mungkin umpatan kepada Sultan Jogja yang tak seharusnya bicara begini, harusnya mendorong dan memfasilitasi warga untuk bisa kuliah. Bukan melontarkan kata-kata yang agak melecehkan itu.

Tapi nanti dulu. Itukan hanya judul yang dibuat wartawan Tempo. Judul yang bagi saya memprihatinkan. Tempo mencoba memprovokasi pembaca dengan judul bombastis semacam itu. Hasilnya, memang beberapa pembaca yang hanya membaca judulnya saja, ada beberapa yang terpancing dan melontarkan komentar negatif. Yang salah satunya kemudian mengumpat Sultan Jogja. Bagi pembaca yang kurang cerdas mengkonsumsi media tentu akan mudah terprovokasi dengan judul-judul semacam itu. Tapi tidak bagi pembaca yang sudah terlalih dengan pemahaman literasi (melek) media.

Setelah saya baca isi beritanya, Tempo memang sengaja melakukan pemilihan judul yang mengambil sepenggal kata dari Sultan. Padahal, konteks peristiwanya Sultan meresmikan sebuah sekolah SMK (Sekolah Menengah Kejuruan). Yang dalam peresmian itu Sultan mendorong untuk membuka usaha mandiri dan seperti dikutip Tempo “Kalau sudah ada sekolah menengah kejuruan yang baik, masyarakat di desa enggak usah melu-melu (ikut-ikut) kuliah kalau enggak mampu (biaya),” ujar Sultan.

Saya kira melihat konteks peristiwanya tak ada yang salah dengan komentar Sultan. Wajar Sultan bilang begitu. Dan wajar pula karena toh dalam konteks bicaranya, tentang keberadaan lulusan SMK yang memang disiapkan untuk siap bekerja. Berbeda misalnya ketika bicara kepada lulusan Sekolah Menengah Umum (SMU).

Tapi apa boleh buat, media sekelas Tempo masih ikut-ikutan “trend” media online yang baru tumbuh dengan memproduksi karya jurnalistik dengan judul-judul yang provokatif. Dalam kasus judul ini saya kira pemilihan judul itu secara langsung bahkan cenderung menyerang Sultan Jogja. Tapi ya itulah gaya Tempo, apa boleh buat, mereka barangkali memang punya standar jurnalistik yang entah bagaimana sering memunculkan berita-berita “sampah” semacam itu. Tapi jangan lupa, konsumen media toh sudah semakin banyak yang dibekali dengan pemahaman literasi (melek) media. Jadi, pembaca yang tercerahkan tak akan terpancing dengan berita-berita semacam itu. (Yons Achmad/Pemerhati Media/ CEO Kanet Indonesia).