Kunci Keberhasilan Advokasi Media Selamatkan KPK

kolom

Save KPK

Koalisi “Buaya” (Polisi) dan “Banteng” (PDIP) menyerang “Cicak” (KPK) akhirnya gagal total. Advokasi (sosial) media dilanjutkan dengan aksi lapangan pada akhirnya yang berhasil memenangkan pertempuran di medan wacana.

Cerita bermula ketika Jokowi (Presiden) menyodorkan Budi Gunawan, pemilik rekening gendut untuk menjadi calon Kapolri. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bertindak cepat menetapkan BG sebagai tersangka tentu dengan tujuan pucuk pimpinan kepolisian itu jangan diisi oleh tokoh-tokoh yang kotor dan bermasalah.

Di media, lalu muncul foto mesra rekayasa Abraham Samad dengan salah seorang Putri Indonesia. Tentu publik dengan mudah bisa menilai upaya itu untuk menjatuhkan citra Samad (KPK). Tak berhasil, tiba-tiba polisi memproses laporan kader PDIP yang menuduh salah seorang pimpinan KPK Bambang Widjoyanto terlibat dalam keterangan palsu soal pilkada beberapa tahun silam. BW pun diborgol, ditangkap. Dan, advokasi media selamatkan KPK pun bermunculan.

Setidaknya, muncul sekitar 200.000 kicauan (Tweet) dengan tagar #SaveKPK di ranah maya. Selain menjadi top trending topik di Indonesia, #SaveKPK juga sempat mencapai posisi kedua Trending Topic Worldwide (TTWW). Tak ketinggalan aksi selamatkan KPK juga muncul di facebook. Sebagai contoh diantara grup Referendum Rakyat Selamatkan KPK. Sementara, petisi online #BebaskanBW, hentikan pelumpuhan KPK! #SaveKPK mencatat 34.255 pendukung.

Di televisi, advokasi media juga dilakukan. Tentu bukan di Metro TV, televisi yang politik redaksinya mendukung semua sepak terjang Jokowi. Kali ini TV One menghadirkan setidaknya dua tokoh yang mendukung aksi selamatkan KPK. Diantaranya Effendi Gazali (Pakar Komunikasi Politik UI) dan Zainal Arifin Mochtar dari PUKAT UGM. Kedua tokoh tersebut mememberikan pandangan-pandangannya yang bernas dalam membela KPK, mematahkan logika-logika hukum dua narasumber dari Polri yang juga dihadirkan dalam acara televisi tersebut.

Pertanyannya, kenapa advokasi media selamatkan KPK berhasil? Satu keberhasilan kuncinya tentu karena pengusung advokasi media itu adalah orang-orang yang punya integritas, bisa dipercaya. Advokasi media adalah ranah permainan persepsi publik.

Kemenangan advokasi media selamatkan KPK kali ini memberikan pesan moral tersendiri bagi partai-partai kotor, penguasa maupun Polri untuk tidak seenaknya menggunakan kekuasaan, wewenang demi mendukung konspirasi jahat melemahkan lembaga yang terbukti serius memberantas korusi di negeri ini. Ketika hal ini dilakukan, maka perlawanan rakyat akan muncul. Advokasi media ini saya kira perlu terus dilakukan demi mengawal pemerintahan yang bersih dari tangan-tangan kotor oknum tertentu bahkan penguasa sekalipun. (Yons Achmad/ CEO Kanet Indonesia).